In this posting i make a new ff❤
Author Lee Hae Gun a.k.a DeaDaraDwiElis
*Old Typed Sorry Alay*
Cast:
- Cha Hae Gun
- Lee Gikwang
- Yoon Ara
- Ajhumma
- Junhyung
CHAP 3
Age : 16+
"The First Snow with Gikwang FF"
Part III
...
"Ah bajingan! Aishh apa yang ia lakukan dengan yeoja lain sepagi ini?"
Ara yang masih bertanya tanya mondar mandir mengira ngira apa yang terjadi dengan gikwang.
"Berani sekali dia menyelingkuhiku! bermain api denganku!"
"Aaahhh kurang ajar!"
"Baru saja aku akan memeras kekayaan nya! Aaaaahhh bodohh! Mengapa aku memutuskan nya? Ah!"
Lalu ara pun menelefon seorang namja disana.
"Junhyunga..."
Ara tampak gelisah menunggu sebuah jawaban atas panggilannya kepada seorang namja bernama Yong Junhyung, ternyata ia adalah selingkuhan Ara ketika ia sedang tidak bersama Gikwang.
Junhyung adalah calon tunangan Haegun, dan Junhyung meerintahnya untuk memeras kekayaan gikwang intuk bekal pernikahan nanti. sangat licik. cinta dari Ara hanyalah cinta semu.
2 menit berlalu, namun masih belum ada tanda tanda namja itu mengangkat panggilannya.
Sekali lagi Ara mencoba.
Terdengar suara tuuut... Tuuuut... Dan..
"Ye.. Kau membangunkanku sepagi ini chagi.. Wae?!" terdengar suara berat dan serak diujung sana, suara yang apabila engkau mendengarnya pun akan dibuat jatuh hati olehnya. So Sexy.
"Chagia.. Aku sangat bodoh! Mian!" ara megutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.
"Ye? Apa maksudmu?"
"Aku telah memutuskan namja pabo itu? Gikwang.."
"Wae? Padahal cukup 1 juta won lagi kita sudah ready untuk menikah, mengapa kau putuskan dia?" terdengar suara cukup kecewa dari ujung sana.
"Aaa.. Mian chagi.. Aku kesal dengannya, Dia bermain gila dengan yeoja lain sepagi ini"
"Lalu? Kau kesal!? Paboyaa! Bukankah kau bilang padaku kau tidak ada rasa dengan nya? Lalu mengapa kau terbawa emosi? Aish kau bodoh sekali"
"Mian chagiaaa.. Miannn.. Aku salah. Biarkan aku bekerja untuk pernikahan kita! Aku berjanji chagi.."
"Hh.. Kau akan kerja apa pabo! Pekerja club hah? mwoya?"
"Kerja apa saja baby, demi kau, Demi hidup denganmu.." ara begitu bersemangat, namun di sisi lain masih bertanya tanya siapakah wanita yang bersama gikwang itu.
"Hh.. Ini akibat ulahmu memutuskan nya, Apa dia tidak meminta kembali denganmu?"
"A.. Ani, aaa belum ada telepon dari namja babo itu chagi"
"Ah.. Baiklah, nanti di bar kita bahas masalah ini. Aku masih mengantuk"
"Kiss me babyyy. Pliss" ara memohon
"Shireo, Keuno" dan junhyung menutup telepon nya.
"Aish!"
Ara memaki teleponnya sendiri, ia kesal kekasihnya marah padanya. Ia memang bersalah, mamun ia juga yeoja pikirnya.
"Eommaaa.. mengapa semua orang membencikuu?"
...
Haegun tampak sibuk dengan alat make up nya, ia memakai bedak, menggunakan lipstick, dan terakhir menggunakan softlens karena matanya yang miopi dan ia tak suka pakai kacamata.
"Ah ready come to campus! Ah.. Hujan? Aigoo.." ia duduk lagi di kursinya berniat menunggu hujan reda, namun ia teringat bahwa gikwang sudah berjanji mengantarnya selama 1 bulan.
"Ah ye.. Namja babo itu kan berjanji mengantarku? Pas sekali dimusim hujan seperti ini haha"
Tanpa ragu ragu haegun berjalan menuju kamar gikwang, ditengah perjalanannya ia bertemu ajhumma.
"eoh ajhumma kau sudah baikan?" tanya haegun penuh kekhawatiran.
"Ah.. Sudah baikan, kau sudah sarapan?" ajhumma tak mau membahas masalah itu lagi.
"Nanti saja ajhumma, ajhumma istirahatlah, ayo kuantar ke kamar ajhumma"
Haegun pun memapah ajhumma untuk istirahat di kamarnya, ajhumma terlihat letih karena ajhumma punya penyakit asma akut.
"Baiklah ajhumma, aku akan berangkat sekitar 10 menit lagi. Jangan lupa minum obat dan makan yang banyak ya ajhumma!" haegun pun pergi keluar dari kamar ajhumma.
"Aa.. Gomawo yo haegunaa" ajhumma tersenyum.
"Benar benar yeoja yang baik untuk anakku"
"Ye ajhumma?" haegun mendengar ajhumma berdumam.
"Ah aniyoo"
...
Gikwang masih sibuk menggunakan boxer kesayangannya berwarna merah dengan motif cukup lucu, motif harimau hahaha.
"Ah.. Ini pemberian dari appa, sudah sangat kecil tapi ini mengingatkan aku pada appa.. Appa..." gikwang hampir saja menekuk wajahnya kalau saja pintunya tidak terbuka.
Pintunya terbuka, dan muncullah gadis sial, haegun dengan tanpa dosa masuk ke dalam kamar gikwang yang masih sibuk membenarkan boxer nya yang kekecilan.
Haegun masuk dan menutup pintu.
Sebelum gikwang sadar ia berteriak!
"AAAAAAA DASAR NAMJA BODOHHHH!!" haegun berteriak sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.
Gikwang yang tak tau ada haegun di depannya reflek dengan cepat memakai celana panjangnya.
"Yaakk! Kau yang bodoh! Untuk apa kau kemari? Cepat keluar!" gikwang melempari haegun dengan bantal bantalnya.
/ajhumma pov/
Ajhumma yang baru saja berniat meminum obat nya, ia mengambil gelas di mejanya dan menuangkan air kedalamnya, belum saja penuh ia sudah menumpahkan airnya akibat suara teriakan haegun.
"AAAAAAA DASAR NAMJA BODOHHHH!!!"
Ajhumma memegangi kepalanya "Ah tuhan.. Apa lagi yang terjadi dengan dua bocah itu? Aish! sekali lagi kudengar teriakan, mereka akan berakhir di KUA!"
Ajhumma tidak jadi meminum obat dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hm.
/ajhumma pov end/
"Yaakk! Kau yang bodoh! Untuk apa kau kemari? Cepat keluar!" gikwang melempari haegun dengan bantal bantalnya.
"Aku kemari mengingatkanmu bahwa kau akan mengantarku selama 1 bulan! Jika kau bilang lupa kau akan tau akibatnya!" haegun mengancam!
"Shireo! 1 mobil denganmu bisa bisa mobilku terkena sial! Cepat keluar! dasar memgganggu saja?"
"Yaakkk! Beraninya kau menolak?"
Haegun mengumpulkan seluruh bantal yang dilempar oleh gikwang padanya. Ia melempar kembali, dan lemparan nya yang terakhir membuat Gikwang ingat dengan perjanjiannya kemarin.
haegun masih melempari gikwang dengan bantal, da kapuk itu mulai keluar perlahan, hingga akhirnya..
"CEPAT KAU BERESKAN KAMARKU ATAU KAU AKAN KUBUNUH KARENA ULAHMU!" gikwang serius dengan perkataanya.
dengan kapuk yg penuh di wajah, rambut dan baju nya, gikwang berjalan di depan haegun, dan haegun mundur perlahan hingga akhirnya terpojok oleh gikwang.
"Kau.. berani sekali mengotori diriku eoh?! Kau kira kau siapa? cepat kau bereskan atau kau aka mati" gikwang memegang leher haegun semakin lama semakin kuat.
"Apa yang akan kau lakukan!? Lepaskan aku!" haegun memaksa gikwang melepaskannya.
"Oh tidak semudah ituu.." gikwang menyentuh halus dagu haegun.
"Gikwanga!" haegun teriak
"YAAKKKK! CEPAT BERESKAN SEKARANG ATAU KAU AKAN KIAMAT!" gikwang dengan brutal menjitaki kepala haegun, ia masih dendam karenanya ia dan Ara putus. Haegun yang dijitaki gikwang bergegas membereskan kamar gikwang.
"picheosseo!"
...
Jam terus berdetak, hingga tiba pukul 07.00 gikwang dan haegun bergegas berangkat menuju kampus.
"Naik ke mobilku! Tapi jangan ada satupun barang yang kau sentuh. Atau kau akan kuturunkan dijalanan" gikwang terlihat sangat malas membawa gadis sial itu. Namun haegun tetap saja tersenyum walaupun ucapan gikwang menyakiti hatinya.
"Berhentilah tersenyum sebelum gigimu mengering"
"Yaak! Fokus saja menyetir! Jangan hiraukan aku!" haegun tampak bahagia melihat jalanan seoul yang amat apik, karena pada biasanya ia hanya melihat sekerumpulan anak anak sekolah yang berdiri di sekitarnya karena ia selalu naik bus dan rute perjalana yang berbeda.
"Ternyata kota tidak seburuk yang kupikirkan! Ah liat disana! Mengapa ada jalanan yang berwarna warni?! Dan lampu menyala! Woahhh" haegun sangat norak.
"Yaak berhentilah bicara sebelum aku membuatmu berhenti bicara" gikwang sudah sangat pusing dengan yeoja sial bin norak ini hm.
"dasar jahat" haegun menggumam.
...
Sesampainya disekolah.
Gikwang dan haegun turun dari mobil, mereka terlihat sangat rapi, haegun tak sadar kalau diujung sana berdiri Yoon Ara yang sekarang status nya adalah MANTAN gikwang.
"Aku mau ke kantin, kau duluan saja" ucap gikwang.
"Baiklah, tapi jangan lupa. Jangan kau tinggalkan aku nanti jam pulang, atau kau akan tau akibatnya!" ketus haegun.
"arasseo"
Haegun berjalan menuju kelas. Jam menunjukkan pukul 07.25 kampus masih terlihat sepi walaupun sudah satu dua yang hadir.
...
Selangkah lagi haegun melangkah, haegun sudah masuk ke kelasnya. Namun ntah apa yang terjadi, tangan haegun ditarik oleh seseorang dan menyekap nya di sebuah ruang berdebu, dan itu adalah gudang disaping toilet.
Dan ditengah debu yang bertebaran, muncul sosok wanita yang tak asing lagi di mata haegun, yoon ara, mantan lee gikwang dan 2 wanita yang juga teman yoon ara.
Ara berjalan menuju haegun yang terpojok di ruang itu.
"Mau apa kalian? Apa maksud mu ara?"
Ara menatap haegun sinis. Ia menunduk dan menampar haegun.
"wanita kotor, jalang!"
Haegun naik pitam, ia hendak menampar balik ara, ia baru saja mau menampar, namun..
"Wooo.. Berani kau menamparku? Ikat dia sekarang!"
Ara menyuruh kedua temannya untuk mengikat haegun.
Haegun menggepar, dan berusaha lepas, namun ia tak berdaya melawan 2 cengkramam kedua teman ara.
"Lepaskan aku!"
"Tidak semudah itu kau ku lepaskan! Apa yang kau pengaruhi pada pangeranku lee gikwang hah?"
"Apa maksudmu?" haegun mulai terpancing emosi.
"Tak usah pura pura bodoh haegunssi, aku tau kau gadis pintar, ups? Gadis? Kurasa.. Hari ini gadis pintar ini akan kiamat haha!" ara tertawa sinis, dan ara memberi kode untuk meninggalkan haegun sendiri di gedung debu itu.
"YAAKK! ARA! APA MAKSUDMU? AKU TAK PERNAH MENGGODA GIKWANG! ASAL KAU TAU! GIKWANG SANGAT MENCINTAIMU NAMUN KAU JALANG! DASAR WANITA MURAHAN!" haegun terisak sendirian.
"hh.. Lalu aku harus percaya denganmu!?!" ara sinis da kembali menampar haegun.
"ya! Kau harus percaya padaku ara! Kumohon lepaskan aku atau.." haegun menggeliat ingin melepaskan tali yg mengikat tangan nya erat.
"atau? ATAU APA? KATAKAN! LAKUKAN APA YANG KAU MAU! LAKUKAN!" ara menjambak rambut haegun.
"lepaskan!"
"Tak semudah itu melepaskan kau haegunssi, kau telah merusak mesin uangku!"
"Mesin uang? Apa maksudmu?"
"hh.. Kau tak tau? gikwang adalah mesin uangku, karena dari uang dia lah aku bisa bersenang senang dengan namja selingkuhanku, dan dari uang dia juga aku telah mengumpulkan uang untuk menikah dengan selingkuhanku tahun depan! Haha begitu indah kan hidupku?! Sebelum kau hancurkan semua planning ku! Kau harus merasakan akibat nya!"
"licik kau ara! Karma akan membunuhmu! Lihat saja, kau akan segera menerima karma, dasar kau wanita jalang!"
"DIAM KAU!" Ara membentak haegun.
"hh.. jadi kau hanya menutupi kebusukanmu dengan pura pura mencintai gikwang? kau bodoh! Lalu untuk apa kau memutuskan nya? bukan kah rencana mu akan berjalan dengan lancar kalau kau tidak tergopoh gopoh hm? hah.. ah kau pasti ada rasa dengan gikwang, hh kau bodoh! KAU BODOH!"
Ara terlihat panik, ia terduduk dan menjambak haegun dengan kasar, "DIAM ATAU KAU AKAN MATI MEMBUSUK DISINI!"
ara dan kedua temannya meninggalkan Haegun dan menguncinya dari luar, membiarkan ia sendirian dalam kegelapan.
...
setelah ia berkumpul dengan teman temannya di kantin, ia bergegas menuju kelas nya.
Baru saja ia melangkah masuk ke kelasnya, tiba tiba terdengar suara tangisan cukup kuat.
"AAAA, vaniaaaa aku putus dengan gikwangku, padahal aku sudah sangat mencintai nya, aku merelakan apapun demi dia, dan sekarang aku kesepian, vaniaaaaa hiks hiks"
Melihat hal itu, gikwang datang ke meja ara menangis, ia minta maaf pada ara yang tengah akting sempurna.
"Chagi, mianhae, percayalah aku tak bermain wanita lain, aku hanya mencintai mu, percayalah chagiaaa" gikwang memegang tangan ara mengelusnya erat.
"Kau bohong chagi, aku tak percaya! Itu suara haegun kan? Kau jangan berbohong! Aku benci! Aku benci kau! Hiks hiks hiks"
"Ah bukan chagi, aku bersumpah, suara itu bukan haegun.. Ah dimana dia!?" gikwang melihat ke sekeliling namun tak mendapatkan sosok wanita sial itu dikelas.
"Mungkin dia.." baru saja ara hendak mengarang sebuah kebohongan tentang haegun, datang seorang terengah engah ia sangat ketakutan dan menahan napasnya agar lebih teratur.
"Waeee?mwoya!?" seisi kelas panik dan menunggu seorang itu bercerita.
"Ada apa? Minum ini dulu" seseorang memberikan air kemasan yang ia ambil di meja anak lain hm
Seseorang itu pun mulai bercerita walaupun suara nya masih tersengal sengal.
"T..Tadi...rr..ruang..ruang..ggg..gudang..ruang gudang..aku..aku melihat seseorang..www..wanita..m..mirip..anak baru itu..mm..sebangku..sebangkumu gikwang!"
"Apa maksudmu?" gikwang mengernyit.
"Dia.. Sangat berantakan..aku..aku tak yakin itu anak baru itu.. T.. Tapi wajahnya sangat mirip.. Apakah dia.. ah ani.. pasti itu dia.. sebangkumu.."
"MWOOOOO?" seisi kelas berpegangan dan ketakutan.
"eoh benarkah? untuk apa dia disana?" gikwang mulai sadar, di kelas itu tak ada haegun, tas nya pun tak ada"
"Aigoo.. kasihan dia, dia pasti habis disekap dan mungkin sekarang... Omo!" seisi kelas pun ribut.
"Mwo? di sekap? tapi.. dia hanya anak baru, bahkan teman pun hanya aku, bagaimana bisa ia disekap?" gikwang melirik Ara.
Disela kepanikan itu, terlihat wajah ketakutan terpancar dari Ara dan kedua temannya.
Gikwang yang dari tadi mencermati tingkah Ara diam saja, ia mulai berjalan, kemudian berlalu menuju gedung itu, seisi kelas mengikuti gikwang karena penasaran. "Apakah ia di serang oleh Ara karena insiden tadi pagi? Ah!"
Seisi kampus heboh dengan berita ini, Ara dan kedua temannya ingin kabur tapi pasti gerbang sudah ditutup oleh satpam karena ini sudah masuk jam pelajaran. Ia juga tak ingin berita kotor ini menghancurkan namanya"
"Eottokhae? Kalau sampai ini terbongkar mau ditaruh dimana wajah ku ini? Aishh, fu*k!" oceh ara.
Ara pun merangkai rencana disela kehebohan seluruh warga kampus.
...
"Aku harus mengungkap ini! Kasihan si wanita bodoh! Apa yang terjadi sebenarnya?" sekelumit pertanyaan muncul di benak gikwang.
Ia dan bersama teman yang lain sudah sampai di depan pintu gudang, terdengar suara gikwang menelan ludah,tanda ia juga berhati hati.
Perlahan gikwang memegang gagang pintu gudang itu, dan seluruh temannya berpegangan tangan.
"aaaa aku takut, tapi kasihan dia, ini kan gudang yg tua dan banyak racun disana" ucap seorang dibelakang gikwang.
"hati hati gikwang" ucap yang lain.
Gikwang perlahan membuka pintu..
Dan..
BUKK..
Tidak tampak apapun di dalam gedung itu selain debu yang berterbangan.
Gikwang memberanikan masuk ke dalam ruang itu dan mendengar suara menyeret nyeret.
"TUHAN lindungi aku, eoh apakah itu setan?" ucap dibelakang sana karena mendengar suara aneh disana.
Gikwang masih waspada, jantung nya berdegup sangat kencang, keringat nya bercucuran hmm
namun tak ada siapapun disana, dan tak tampak apapun disana hanya setumpuk benda tak terpakai dan debu yg tebal disana sini.
"aish! bodoh! mengapa aku percaya begitu saja dengan kabar yang belum pasti, ah sudahlah, tak ada apapun disini" gikwang berjalan menuju pintu hendak keluar.
Tiba tiba muncul wanita dengan rambut berantakan, mulut tersumpal serta kaki dan tangan yang terikat, wajahnya merah bekas tamparan, rambutnya berantakan bekas jambakan, dan baju serta rok yang sangat kumal karena ia berusaha melepaskan tali dari tangannya dan menggosok nya di ujung kaki meja, dan mulutnya tertutup lakban sangat tebal.
"AAAAAAAAAAA" sontak seluruh kampus gempar dan berteriak melihat sosok wanita seperti hantu itu.
Wanita itu seperti menahan sakit dan seperti berbicara sesuatu, namun tak jelas karena tersumpal.
Gikwang berkedip, ia meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat sekarang bukanlah hantu, tapi manusia.
Gikwang memberanikan diri mendekati wanita itu, dan betapa terkejutnya ia melihat HAEGUN wanita sial yang sekarang ada di depannya dengan keadaan seperti itu.
"HHH.. HAEGUNA? HAEGUNAAA? Mwo? Apa yang.. Apa yang terjadi?" tanya gikwang melepaskan sumpalan itu.
Setelah tau bahwa itu bukan hantu tapi adalah haegun, teman baru mereka, seisi kampus pun tenang dan sekarang panik dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan haegun.
Gikwang melepaskan sumpalan itu dari mulut haegun, dan haegun menangis "Gikwangaaaaa hiks hiks hiks.."
Haegun menangis, dan terus menangis, gikwang memeluknya dan berkata "Uljima, sekarang kau aman, aku disini, apa yang terjadi?"
Haegun masih menangis "hiks hiks.. Ara.. Dan kedua temannya yang menyekap ku disini tadi pagi hiks hiks"
Mendengar itu gikwang dan seisi kampus tak percaya, semua berteriak "Jeongmalyo? Woah aku tak menyamgka ternyata ini ulah Ara dan teman nya, dia jahat sekali!"
Haegun mengangguk dan setelah lepas tali itu dari kedua tangan dan kaki nya, ia meminta gikwang untuk mengantarnya pulang.
"Tenanglah, Ara akan kuselesaikan."
Gikwang pun membopoh Haegun di punggungnya, dan seisi kampus mengutuk Ara dan kedua teman liciknya.
"Ternyata ini semua ulah Ara, wah kita harus memberinya pelajaran!" anak kampus yg lain ikut bersimpatik atas kejadian ini. "Kasihan anak baru itu, teman pun tak ada, aku pun merasa aneh ketika dia disekap disni, musuh pun tak ada, dia anak baru"
"hh, kita harus membantu gikwang membopoh anak baru itu, Ara nanti saja kita selesaikan" kata yg lain.
"Kita tak boleh bertmena dengan Ara dan kawan kawan nya, mereka jahat, monster!"
"Ya kau benar! Kita tidak boleh berteman dengan mereka, mereka berbahaya!"
"ya benar itu!"
...
Setelah 15 menit perjalanan sampailah gikwang dan haegun di rumah, kaki dan tangan haegun masih lemas, gikwang membopoh haegun dan menduduki nya di ruang keluarga.
Melihat itu eomma kaget dan sontak menuju kursi haegun, eomma terlihat panik.
"Omo.. Apa yang terjadi haeguna? Mengapa kau lemas begini? kau sakit hh?"
"Ani ajhumma, na gwaenchanna" haegun tersenyum lemas.
"Jeongmal? Minum air putih sayang"
"mm" haegun mengangguk meyakinkan ajhumma agar tidak panik. "gomawo ajhumma"
Gikwang duduk disebelah haegun, dan mengisyaratkan kepada eomma nya kalau haegun sedang syok.
"Sudah baikan?" tanya gikwang penuh perhatian.
"Ah ye.. Gomawo" jawab haegun.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi" pinta gikwang.
Haegun pun segera menceritakan hal mengerikan itu pada gikwang dan ajhumma perlahan lahan, dengan isakan yang cukup mengisyaratkan bahwa itu sangat kejam.
Setelah mendengar penjelasan dari haegun, gikwang merasa ditipu dan sangat ingin membalas Ara. Namun ajhumma menahan gikwang, "Biarkan dulu, Tuhan takkan diam"
Gikwang pun duduk kembali dan kembali fokus pada haegun, ia membopoh nya ke kamar, dan membiarkan haegun untuk istirahat.
Gikwang bercerita pada eomma, tentang semua kebodohan dan kebohongan yang ia lakukan pada eomma nya saat ia masih bersama Ara.
Gikwang merasa sangat dibodohi dan sangat merasa marah dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, ia sangat merasa bersalah atas apa yang telah ia sia siakan demi seorang wanita licik seperti Ara.
Begitu banyak kata kata makian dan kutukan terlontar dari mulut gikwang. Eomma hanya bisa menenangkan anaknya itu, dan menyuruhnya untuk berfikir dewasa.
"Sudahlah anakku, Biar Tuhan yang membalasnya"
"Ye eomma, mianhae jeongmal mianhae" gikwang memeluk erat eommanya, dan eomma terlihat begitu bahagia, ada hikmah dibalik semua ini pikirnya.
"Ada hikmah disetiap musibah seperti ini. Eomma sangat berterima kasih karena haegun disini hubungan eomma dengan anak eomma tersayang ini menjadi lebih baik" kata eomma.
"Ah bukan sepenuhnya karena yeoja sial itu eomma.. Dia hanya yeoja sial, tak lebih" ketus gikwang.
"Ah, jangan bohong. Kau suka kan dengan dia?"
"Mwo? Aigoo ani eomma, ani.." gikwang bergegas pergi.
"aish, bahkan wajahmu tak dapat berbohong dengan eomma, aigoo manis sekali kalian ini" eomma tertawa, sudah lama ia tak sedekat ini dengan putranya.
...
Haegun melepas pakaian kotor nya itu dan melemparkan ke keranjang dipojok ruangan.
"Sial! Ah! ini sakit sekali, ah wajahku! Awas kau Ara!" Haegun masih dendam dengan Ara, wajahnya merah menahan emosi.
"Rambutku tadi di jambaknya, pipiku di tamparnya, AHHH AKAN KUBUNUH KAU ARAAAA! AAAAAHHHHHHHHHHHHHHH" haegun tersengal sengal dan merobek apapun yang ia pegang.
"ah.. ah appo" -_-
...
Gikwang yang hendak menuju kamarnya berhenti sejenak karena mendengar teriakan haegun didalam kamarnya yang dengan bodoh tidak ia kunci, dan terlihat di sela pintu ia tengah mengutuk nama Ara dan ditangannya ia menyobek suatu kertas, da ia berdiri, dan terjatuh karena tersandung kaki meja.
"Dasar wanita ceroboh"
Dan gikwang berlalu.
...
Di pagi yang masih disuguhi embun pagi, tampak seorang yeoja yang masih rapih dalam selimut nya ia menggeliat karena handphonenya berdering berulang kali.
"aah.. Siapa sih sepagi ini?!"
Haegun mengambil hp nya yang tergeletak di meja dan segera mengangkat telepon itu.
Terdengar suara Ara di ujung sana.
"Hey kau wanita bodoh! Temui aku di belakang gedung xxx atau kau akan ku celakai! YOON ARA."
Dan terdengar suara telepon yg terputus diujung sana.
Haegun terdiam dan rasa kantuknya seketika menghilang.
"Apa tadi yang telah aku dengar?" haegun merasa hidup nya seperti diawasi. Ia segera menelepon gikwang karena ini masih pagi dan pasti gikwang blm bangun dari tidurnya.
Namun tbtb gikwang mengangkat telepon haegun, dan terdengar suara serak itu.
"mmm.. Mengapa kau menelepon ku idiot?"
Haegun menjawab "ini masalah Ara"
"mwo? untuk apa dia meneleponmu? katakan!"
"dia hendak melabrakku lagi hari ini di belakang gedung xxx pagi ini"
"ah baiklah, akan kita selesaikan masalah ini bersama sama"
"ne"
"dasar idiot, kau menelpon ku padahal kamar kita bersebrangan hh"
"kau pasti belum bangun makanya aku meneleponmu bodoh!"
"ah hm arasseo"
.
.
.
Tepat jam 07.00 haegun datang menuju gedung xxx dan gikwang mengikuti haegun dari belakang agar ara tak tau bahwa haegun datang bersama gikwang.
Haegun sampai di belakang gedung itu, dan tampak ara bersama teman teman nya sudah duduk di bangku bangku yang tergeletak tak terurus disana.
Haegun berjalan, dan ara pun berjalan..
"Apa lagi?" tanya haegun langsung ke topik.
Ara tertawa simpul, dan berjalan mendekati haegun ia hendak menjambak haegun namun ditepis oleh haegun. "Aku tak akan memakai kekerasan jika kau tak memulainya duluan!"
Haegun menarik kerah ara, dan kedua teman nya menarik tangan haegun..
Namun haegun menepis teman teman ara dengan tangan kanan dan kakinya, sementara tangan kirinya masih menjambak kerah ara.
"Ternyata kau lemah hah?" ucap haegun di depan wajah ara.
"Hh.. Aku takkan.."
Belum selesai ara berbicara, salah satu teman ara hendak memukul kepala haegun dengan kayu, namun gikwang datang dan hal itu pun gagal.
Gikwang menghampiri ara dan menatapnya penuh benci. "Ini balasanmu? Terhadap seluruh pengorbanan yang telah aku lakukan demi dirimu? INI BALASANMU?" gikwang berteriak di depan wajah ara.
"Aa.. Ani gikwangi.. Aku.. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" ara memelas.
"JANGAN PERNAH KAU SENTUH SEJENGKAL PUN DARI HAEGUN! ATAU KAU AKAN BERURUSAN DENGAN POLISI DENGAN KASUS PEMERASAN!"
gikwang menarik tangan haegun.
dan haegun tersenyum sinis dengan Ara.
"Mwo? aku diancam! dan aku akan berurusan dengan polisi? AH BERANTAKAN!"
dan Ara menelepon Junhyung, namun di sela amarah itu, kedua teman Ara memutuskan meninggalkan Ara dan takkan ikut dengan nya lagi.
"Hey! Kawan macam apa kalian! Vani! Rose! AHHHHH!!!"
..
To be continue😳😳
*endorse*
IG @deadarae
LINE deyydaaa
ASKFM @DeaDaraDwiElis
Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua,SAYA IBU SUKMA Sengaja ingin menulis
BalasHapussedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
500 JT saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
dengan AKI SAKTI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 HARI
saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KI sakti
kata BELIAU pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
penarikan uang gaib 2Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 2M yang saya
minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
sering menyarankan untuk menghubungi Aki Sakti DI NOMOR 085_242_421_477
agar di berikan arahan. jika ingin seperti saya coba hubungi Aki Sakti pasti akan di bantu Oleh Beliau