Jumat, 23 Maret 2018

Fadhillah Aqiqah


Ceramah singkat Fadhillah AQIQAH
Assalaamu alaikum wr., wb.,


Alhamdulillahi rabbil alamiin wabihi nasta'inu ala umuriddunya waddiini wa alaa aalihii wasshahbihi ajma'iin. Puji serta syukur, mari kita panjatkan ke hadirat Allah yang maha ghafur. Tak lupa shalawat beserta salam, semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu taat pada risalah yang dibawa olehnya. Amin.
Alhamdulillah di kesempatan yang berbahagia ini, kita dapat berkumpul dalam rangka acara syukuran aqiqah dari kelahiran putra dari Bapak dan Ibu ... pada tanggal .. bulan ......... 2017 ini pada pukul ... WIB dengan selamat. Berdasarkan syariat yang diajarkan dalam Islam, pada hari ke tujuh atau hari ke empat belas tepat setelah dilahirkannya seorang anak maka kita di sunnah kan untuk aqiqah.
Bapak bapak, Ibu ibu sudah tau mengapa seorang anak ketika sudah dilahirkan harus kita akikahkan? Sudah tahu?
Banyak hadits yang meriwayatkan tentang aqiqah, sehingga aqiqah menjadi sunnah Nabi Muhammad yang mana jika melakukannya akan mendapat pahala, jika tidak melakukannya tidak apa-apa. hadits-hadits itu adalah sebagai berikut:
Dari Sulaiman ibn Amir Adh Dhaby radluyallahu Anhu berkata: Rasulullah saw bersabda: “anak yang baru lahir hendaknya diaqiqahi, alirkanlah darah (sembelihlah kambing) dan hilangkanlah kotoran serta penyakit yang menyertai anak tersebut (cukurlah rambutnya).” (H. R. Bukhori dalam shahihnya secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanad) dan Thahawi menilai hadits itu sebagai hadits maushul. Hadits itu juga diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi)
Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab rodliyallahu anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “setiap anak yang dilahirkan itu tergadai dengan aqiqahnya, yaitu seekor kambing yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, lalu si anak diberi nama dan rambut kepalanya dicukur.” (h. R. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)
Untuk menjelaskan hadits diatas, mengutip dari penjelasan al Allamah Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Zad Al Ma’ad: Imam Ahmad berkata, “maknanya adalah bahwa anak yang baru lahir itu tertahan (terhalangi) untuk memberi syafaat kepada orang tua. Sedangkan kata tergadai menurut bahasa berarti tertahan, sebagaimana firman Allah swt:
“tiap-tiap diri tertahan (harus mempertanggungjawabkan) apa yang telah diperbuatnya.” (Q.S. Al Muddatsir: 38)
Demikian beberapa hadits tentang aqiqah. Menurut hadits-hadits diatas, dapat ditarik kesimpulah bahwa aqiqah adalah penting untuk dilakukan. Untuk anak laki-laki, aqiqah adalah dua ekor kambing sedangkan anak perempuan aqiqah dengan satu ekor kambing. Karena aqiqah ini sunnah, lebih baik melakukannnya bagi orang yang mampu (bukan termasuk fakir miskin). Jika tidak mampu untuk melakukan aqiqah tidak apa-apa. Adapun hasil aqiqah sebagai acara sosial adalah harus dengan membagikannya kepada masyarakat dalam  keadaan matang atau telah diolah dan dimasak.
Dari beberapa hadits diatas pula dapat ditarik kesimpulan atas keutamaan aqiqah yaitu:
1.     Mendapat pahala karena melaksanakan sunnah Rosul – Melaksanakan sunnah Rasul sama aja membuktikan kalau diri kita mencintai Nabi Muhammad dan mencintai Islam. Mengapa demikian? Karena semua sumber dasar Islam ada pada Al Quran dan As Sunnah yang mana aqiqah adalah salah satu isi yang ada didalam sunnah itu.
2.     Menghilangkan kotoran dan penyakit – Aqiqah juga disertai dengan mencukur rambut bayi dengan niat menghilangkan kotoran dan penyakit.
3.     Meningkatkan ibadah kepada Allah – Pada acara aqiqah biasanya disertai dengan pembacaan al quran 30 juz, atau pembacaan yasin dan tahlil, doa-doa dan lain sebagainya. Hal ini membuat pelaksana aqiqah menjadi meningkat rasa cinta iobadahnya dengan berbuat demikian.
4.     Mendoakan sang bayi – Pada aqiqah biasanya disertai doa-doa untuk mendoakan bayi sehingga dapat menjadi keuntungan untuk bayi yang tiada terhintung jumlahnya.
5.     Meningkatkan rasa cinta sosial sesama muslim – Dengan membagi aqiqah pada sesama muslim dapat meningkatkan rasa solidaritas sesama muslim sehingga menumbuhkan cinta terhadap sesama muslim pula.
Semoga putra Bapak dan Ibu menjadi anak yang soleh, berbakti kepada kedua orangtuanya, dan menjadi orang yang selalu di rindu kan kebaikannya oleh orang-orang di sekitarnya, kelak di kemudian hari. Amin.

Dengan memiliki anak yang soleh, maka sesuai hadis shahih yang berbunyi: "Idza matabnu aadama inqotho'a 'amaluhu, illa min tsalatsin", yang arrtinya ketika anak adam (manusia) meninggal, maka putuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara. Apa itu? Salah satunya adalah anak soleh yang mendoakan kedua orangtuanya.

Namun, perlu juga kita ketahui bahwa banyak proses yang harus kita jalani sehingga bisa memiliki anak yang
saleh, yaitu mendidiknya dengan penuh kasih sayang dan ketulusan sesuai bimbingan Al Quran dan memberikan makanan yang baik dan halal kepadanya. Dengan demikian, maka kelak anak tersebut insya Allah menjadi anak yang saleh berdasarkan hadis yang disebutkan tadi.

Ketika kita memiliki anak yang soleh, berbahagialah kita karena ketika kita telah tiada, maka anak tersebut akan selalu berdoa agar dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Subhanallah (Maha Suci Allah).

Semoga dengan rezeki yang Bapak dan Ibu ... keluarkan di jalan Allah untuk menunaikan aqiqah putranya menjadi jalan untuk membentuk karakter putra yang saleh dan berbakti kepada orangtua nya.

Mari kita sama-sama berdoa, agar anak dan cucu kita termasuk keturunan yang saleh dan salehah.
"Robbanaa hablanaa min azwazinaa wa durriyyatinaa qurrota 'ayuun waj'alna lilmuttaqiina imaaman. Robaanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil-akhirati hasanah, waqinaa adzaabannar".

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Wasaalaamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. 


Selasa, 09 Agustus 2016

The First Snow with Gikwang FF Part III

Holaaa~~
In this posting i make a new ff❤

Author Lee Hae Gun a.k.a DeaDaraDwiElis

*Old Typed Sorry Alay*

Cast:
- Cha Hae Gun
- Lee Gikwang
- Yoon Ara
- Ajhumma
- Junhyung

CHAP 3

Age : 16+

"The First Snow with Gikwang FF"
Part III

...

"Ah bajingan! Aishh apa yang ia lakukan dengan yeoja lain sepagi ini?"
Ara yang masih bertanya tanya mondar mandir mengira ngira apa yang terjadi dengan gikwang.

"Berani sekali dia menyelingkuhiku! bermain api denganku!"

"Aaahhh kurang ajar!"

"Baru saja aku akan memeras kekayaan nya! Aaaaahhh bodohh! Mengapa aku memutuskan nya? Ah!"

Lalu ara pun menelefon seorang namja disana.

"Junhyunga..."

Ara tampak gelisah menunggu sebuah jawaban atas panggilannya kepada seorang namja bernama Yong Junhyung, ternyata ia adalah selingkuhan Ara ketika ia sedang tidak bersama Gikwang.

Junhyung adalah calon tunangan Haegun, dan Junhyung meerintahnya untuk memeras kekayaan gikwang intuk bekal pernikahan nanti. sangat licik. cinta dari Ara hanyalah cinta semu.

2 menit berlalu, namun masih belum ada tanda tanda namja itu mengangkat panggilannya.

Sekali lagi Ara mencoba.
Terdengar suara tuuut... Tuuuut... Dan..

"Ye.. Kau membangunkanku sepagi ini chagi.. Wae?!" terdengar suara berat dan serak diujung sana, suara yang apabila engkau mendengarnya pun akan dibuat jatuh hati olehnya. So Sexy.

"Chagia.. Aku sangat bodoh! Mian!" ara megutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.

"Ye? Apa maksudmu?"

"Aku telah memutuskan namja pabo itu? Gikwang.."

"Wae? Padahal cukup 1 juta won lagi kita sudah ready untuk menikah, mengapa kau putuskan dia?" terdengar suara cukup kecewa dari ujung sana.

"Aaa.. Mian chagi.. Aku kesal dengannya, Dia bermain gila dengan yeoja lain sepagi ini"

"Lalu? Kau kesal!? Paboyaa! Bukankah kau bilang padaku kau tidak ada rasa dengan nya? Lalu mengapa kau terbawa emosi? Aish kau bodoh sekali"

"Mian chagiaaa.. Miannn.. Aku salah. Biarkan aku bekerja untuk pernikahan kita! Aku berjanji chagi.."

"Hh.. Kau akan kerja apa pabo! Pekerja club hah? mwoya?"

"Kerja apa saja baby, demi kau, Demi hidup denganmu.." ara begitu bersemangat, namun di sisi lain masih bertanya tanya siapakah wanita yang bersama gikwang itu.

"Hh.. Ini akibat ulahmu memutuskan nya, Apa dia tidak meminta kembali denganmu?"

"A.. Ani, aaa belum ada telepon dari namja babo itu chagi"

"Ah.. Baiklah, nanti di bar kita bahas masalah ini. Aku masih mengantuk"

"Kiss me babyyy. Pliss" ara memohon

"Shireo, Keuno" dan junhyung menutup telepon nya.

"Aish!"
Ara memaki teleponnya sendiri, ia kesal kekasihnya marah padanya. Ia memang bersalah, mamun ia juga yeoja pikirnya.

"Eommaaa.. mengapa semua orang membencikuu?"
...

Haegun tampak sibuk dengan alat make up nya, ia memakai bedak, menggunakan lipstick, dan terakhir menggunakan softlens karena matanya yang miopi dan ia tak suka pakai kacamata.

"Ah ready come to campus! Ah.. Hujan? Aigoo.." ia duduk lagi di kursinya berniat menunggu hujan reda, namun ia teringat bahwa gikwang sudah berjanji mengantarnya selama 1 bulan.

"Ah ye.. Namja babo itu kan berjanji mengantarku? Pas sekali dimusim hujan seperti ini haha"

Tanpa ragu ragu haegun berjalan menuju kamar gikwang, ditengah perjalanannya ia bertemu ajhumma.

"eoh ajhumma kau sudah baikan?" tanya haegun penuh kekhawatiran.

"Ah.. Sudah baikan, kau sudah sarapan?" ajhumma tak mau membahas masalah itu lagi.

"Nanti saja ajhumma, ajhumma istirahatlah, ayo kuantar ke kamar ajhumma"

Haegun pun memapah ajhumma untuk istirahat di kamarnya, ajhumma terlihat letih karena ajhumma punya penyakit asma akut.

"Baiklah ajhumma, aku akan berangkat sekitar 10 menit lagi. Jangan lupa minum obat dan makan yang banyak ya ajhumma!" haegun pun pergi keluar dari kamar ajhumma.

"Aa.. Gomawo yo haegunaa" ajhumma tersenyum.
"Benar benar yeoja yang baik untuk anakku"

"Ye ajhumma?" haegun mendengar ajhumma berdumam.

"Ah aniyoo"

...

Gikwang masih sibuk menggunakan boxer kesayangannya berwarna merah dengan motif cukup lucu, motif harimau hahaha.

"Ah.. Ini pemberian dari appa, sudah sangat kecil tapi ini mengingatkan aku pada appa.. Appa..." gikwang hampir saja menekuk wajahnya kalau saja pintunya tidak terbuka.

Pintunya terbuka, dan muncullah gadis sial, haegun dengan tanpa dosa masuk ke dalam kamar gikwang yang masih sibuk membenarkan boxer nya yang kekecilan.

Haegun masuk dan menutup pintu.
Sebelum gikwang sadar ia berteriak!

"AAAAAAA DASAR NAMJA BODOHHHH!!" haegun berteriak sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.

Gikwang yang tak tau ada haegun di depannya reflek dengan cepat memakai celana panjangnya.

"Yaakk! Kau yang bodoh! Untuk apa kau kemari? Cepat keluar!" gikwang melempari haegun dengan bantal bantalnya.

/ajhumma pov/

Ajhumma yang baru saja berniat meminum obat nya, ia mengambil gelas di mejanya dan menuangkan air kedalamnya, belum saja penuh ia sudah menumpahkan airnya akibat suara teriakan haegun.

"AAAAAAA DASAR NAMJA BODOHHHH!!!"

Ajhumma memegangi kepalanya "Ah tuhan.. Apa lagi yang terjadi dengan dua bocah itu? Aish! sekali lagi kudengar teriakan, mereka akan berakhir di KUA!"

Ajhumma tidak jadi meminum obat dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hm.

/ajhumma pov end/

"Yaakk! Kau yang bodoh! Untuk apa kau kemari? Cepat keluar!" gikwang melempari haegun dengan bantal bantalnya.

"Aku kemari mengingatkanmu bahwa kau akan mengantarku selama 1 bulan! Jika kau bilang lupa kau akan tau akibatnya!" haegun mengancam!

"Shireo! 1 mobil denganmu bisa bisa mobilku terkena sial! Cepat keluar! dasar memgganggu saja?"

"Yaakkk! Beraninya kau menolak?"

Haegun mengumpulkan seluruh bantal yang dilempar oleh gikwang padanya. Ia melempar kembali, dan lemparan nya yang terakhir membuat Gikwang ingat dengan perjanjiannya kemarin.

haegun masih melempari gikwang dengan bantal, da kapuk itu mulai keluar perlahan, hingga akhirnya..

"CEPAT KAU BERESKAN KAMARKU ATAU KAU AKAN KUBUNUH KARENA ULAHMU!" gikwang serius dengan perkataanya.

dengan kapuk yg penuh di wajah, rambut dan baju nya, gikwang berjalan di depan haegun, dan haegun mundur perlahan hingga akhirnya terpojok oleh gikwang.

"Kau.. berani sekali mengotori diriku eoh?! Kau kira kau siapa? cepat kau bereskan atau kau aka mati" gikwang memegang leher haegun semakin lama semakin kuat.

"Apa yang akan kau lakukan!? Lepaskan aku!" haegun memaksa gikwang melepaskannya.

"Oh tidak semudah ituu.." gikwang menyentuh halus dagu haegun.

"Gikwanga!" haegun teriak

"YAAKKKK! CEPAT BERESKAN SEKARANG ATAU KAU AKAN KIAMAT!" gikwang dengan brutal menjitaki kepala haegun, ia masih dendam karenanya ia dan Ara putus. Haegun yang dijitaki gikwang bergegas membereskan kamar gikwang.

"picheosseo!"

...

Jam terus berdetak, hingga tiba pukul 07.00 gikwang dan haegun bergegas berangkat menuju kampus.

"Naik ke mobilku! Tapi jangan ada satupun barang yang kau sentuh. Atau kau akan kuturunkan dijalanan" gikwang terlihat sangat malas membawa gadis sial itu. Namun haegun tetap saja tersenyum walaupun ucapan gikwang menyakiti hatinya.
"Berhentilah tersenyum sebelum gigimu mengering"

"Yaak! Fokus saja menyetir! Jangan hiraukan aku!" haegun tampak bahagia melihat jalanan seoul yang amat apik, karena pada biasanya ia hanya melihat sekerumpulan anak anak sekolah yang berdiri di sekitarnya karena ia selalu naik bus dan rute perjalana yang berbeda.

"Ternyata kota tidak seburuk yang kupikirkan! Ah liat disana! Mengapa ada jalanan yang berwarna warni?! Dan lampu menyala! Woahhh" haegun sangat norak.

"Yaak berhentilah bicara sebelum aku membuatmu berhenti bicara" gikwang sudah sangat pusing dengan yeoja sial bin norak ini hm.

"dasar jahat" haegun menggumam.

...

Sesampainya disekolah.
Gikwang dan haegun turun dari mobil, mereka terlihat  sangat rapi, haegun tak sadar kalau diujung sana berdiri Yoon Ara yang sekarang status nya adalah MANTAN gikwang.

"Aku mau ke kantin, kau duluan saja" ucap gikwang.

"Baiklah, tapi jangan lupa. Jangan kau tinggalkan aku nanti jam pulang, atau kau akan tau akibatnya!" ketus haegun.

"arasseo"

Haegun berjalan menuju kelas. Jam menunjukkan pukul 07.25 kampus masih terlihat sepi walaupun sudah satu dua yang hadir.

...

Selangkah lagi haegun melangkah, haegun sudah masuk ke kelasnya. Namun ntah apa yang terjadi, tangan haegun ditarik oleh seseorang dan menyekap nya di sebuah ruang berdebu, dan itu adalah gudang disaping toilet.

Dan ditengah debu yang bertebaran, muncul sosok wanita yang tak asing lagi di mata haegun, yoon ara, mantan lee gikwang dan 2 wanita yang juga teman yoon ara.

Ara berjalan menuju haegun yang terpojok di ruang itu.

"Mau apa kalian? Apa maksud mu ara?"

Ara menatap haegun sinis. Ia menunduk dan menampar haegun.
"wanita kotor, jalang!"

Haegun naik pitam, ia hendak menampar balik ara, ia baru saja mau menampar, namun..

"Wooo.. Berani kau menamparku? Ikat dia sekarang!"
Ara menyuruh kedua temannya untuk mengikat haegun.

Haegun menggepar, dan berusaha lepas, namun ia tak berdaya melawan 2 cengkramam kedua teman ara.

"Lepaskan aku!"

"Tidak semudah itu kau ku lepaskan! Apa yang kau pengaruhi pada pangeranku lee gikwang hah?"

"Apa maksudmu?" haegun mulai terpancing emosi.

"Tak usah pura pura bodoh haegunssi, aku tau kau gadis pintar, ups? Gadis? Kurasa.. Hari ini gadis pintar ini akan kiamat haha!" ara tertawa sinis, dan ara memberi kode untuk meninggalkan haegun sendiri di gedung debu itu.

"YAAKK! ARA! APA MAKSUDMU? AKU TAK PERNAH MENGGODA GIKWANG! ASAL KAU TAU! GIKWANG SANGAT MENCINTAIMU NAMUN KAU JALANG! DASAR WANITA MURAHAN!" haegun terisak sendirian.

"hh.. Lalu aku harus percaya denganmu!?!" ara sinis da kembali menampar haegun.

"ya! Kau harus percaya padaku ara! Kumohon lepaskan aku atau.." haegun menggeliat ingin melepaskan tali yg mengikat tangan nya erat.

"atau? ATAU APA? KATAKAN! LAKUKAN APA YANG KAU MAU! LAKUKAN!" ara menjambak rambut haegun.

"lepaskan!"

"Tak semudah itu melepaskan kau haegunssi, kau telah merusak mesin uangku!"

"Mesin uang? Apa maksudmu?"

"hh.. Kau tak tau? gikwang adalah mesin uangku, karena dari uang dia lah aku bisa bersenang senang dengan namja selingkuhanku, dan dari uang dia juga aku telah mengumpulkan uang untuk menikah dengan selingkuhanku tahun depan! Haha begitu indah kan hidupku?! Sebelum kau hancurkan semua planning ku! Kau harus merasakan akibat nya!"

"licik kau ara! Karma akan membunuhmu! Lihat saja, kau akan segera menerima karma, dasar kau wanita jalang!"

"DIAM KAU!" Ara membentak haegun.

"hh.. jadi kau hanya menutupi kebusukanmu dengan pura pura mencintai gikwang? kau bodoh! Lalu untuk apa kau memutuskan nya? bukan kah rencana mu akan berjalan dengan lancar kalau kau tidak tergopoh gopoh hm? hah.. ah kau pasti ada rasa dengan gikwang, hh kau bodoh! KAU BODOH!"

Ara terlihat panik, ia terduduk dan menjambak haegun dengan kasar, "DIAM ATAU KAU AKAN MATI MEMBUSUK DISINI!"

ara dan kedua temannya meninggalkan Haegun dan menguncinya dari luar, membiarkan ia sendirian dalam kegelapan.

...

setelah ia berkumpul dengan teman temannya di kantin, ia bergegas menuju kelas nya.

Baru saja ia melangkah masuk ke kelasnya, tiba tiba terdengar suara tangisan cukup kuat.

"AAAA, vaniaaaa aku putus dengan gikwangku, padahal aku sudah sangat mencintai nya, aku merelakan apapun demi dia, dan sekarang aku kesepian, vaniaaaaa hiks hiks"

Melihat hal itu, gikwang datang ke meja ara menangis, ia minta maaf pada ara yang tengah akting sempurna.

"Chagi, mianhae, percayalah aku tak bermain wanita lain, aku hanya mencintai mu, percayalah chagiaaa" gikwang memegang tangan ara mengelusnya erat.

"Kau bohong chagi, aku tak percaya! Itu suara haegun kan? Kau jangan berbohong! Aku benci! Aku benci kau! Hiks hiks hiks"

"Ah bukan chagi, aku bersumpah, suara itu bukan haegun.. Ah dimana dia!?" gikwang melihat ke sekeliling namun tak mendapatkan sosok wanita sial itu dikelas.

"Mungkin dia.." baru saja ara hendak mengarang sebuah kebohongan tentang haegun, datang seorang terengah engah ia sangat ketakutan dan menahan napasnya agar lebih teratur.

"Waeee?mwoya!?" seisi kelas panik dan menunggu seorang itu bercerita.

"Ada apa? Minum ini dulu" seseorang memberikan air kemasan yang ia ambil di meja anak lain hm

Seseorang itu pun mulai bercerita walaupun suara nya masih tersengal sengal.

"T..Tadi...rr..ruang..ruang..ggg..gudang..ruang gudang..aku..aku melihat seseorang..www..wanita..m..mirip..anak baru itu..mm..sebangku..sebangkumu gikwang!"

"Apa maksudmu?" gikwang mengernyit.

"Dia.. Sangat berantakan..aku..aku tak yakin itu anak baru itu.. T.. Tapi wajahnya sangat mirip.. Apakah dia.. ah ani.. pasti itu dia.. sebangkumu.."

"MWOOOOO?" seisi kelas berpegangan dan ketakutan.
"eoh benarkah? untuk apa dia disana?" gikwang mulai sadar, di kelas itu tak ada haegun, tas nya pun tak ada"

"Aigoo.. kasihan dia, dia pasti habis disekap dan mungkin sekarang... Omo!" seisi kelas pun ribut.

"Mwo? di sekap? tapi.. dia hanya anak baru, bahkan teman pun hanya aku, bagaimana bisa ia disekap?" gikwang melirik Ara.

Disela kepanikan itu, terlihat wajah ketakutan terpancar dari Ara dan kedua temannya.

Gikwang yang dari tadi mencermati tingkah Ara diam saja, ia mulai berjalan, kemudian berlalu menuju gedung itu, seisi kelas mengikuti gikwang karena penasaran. "Apakah ia di serang oleh Ara karena insiden tadi pagi? Ah!"

Seisi kampus heboh dengan berita ini, Ara dan kedua temannya ingin kabur tapi pasti gerbang sudah ditutup oleh satpam karena ini sudah masuk jam pelajaran. Ia juga tak ingin berita kotor ini menghancurkan namanya"
"Eottokhae? Kalau sampai ini terbongkar mau ditaruh dimana wajah ku ini? Aishh, fu*k!" oceh ara.

Ara pun merangkai rencana disela kehebohan seluruh warga kampus.
...

"Aku harus mengungkap ini! Kasihan si wanita bodoh! Apa yang terjadi sebenarnya?" sekelumit pertanyaan muncul di benak gikwang.

Ia dan bersama teman yang lain sudah sampai di depan pintu gudang, terdengar suara gikwang menelan ludah,tanda ia juga berhati hati.

Perlahan gikwang memegang gagang pintu gudang itu, dan seluruh temannya berpegangan tangan.

"aaaa aku takut, tapi kasihan dia, ini kan gudang yg tua dan banyak racun disana" ucap seorang dibelakang gikwang.

"hati hati gikwang" ucap yang lain.

Gikwang perlahan membuka pintu..
Dan..

BUKK..

Tidak tampak apapun di dalam gedung itu selain debu yang berterbangan.

Gikwang memberanikan masuk ke dalam ruang itu dan mendengar suara menyeret nyeret.

"TUHAN lindungi aku, eoh apakah itu setan?" ucap dibelakang sana karena mendengar suara aneh disana.

Gikwang masih waspada, jantung nya berdegup sangat kencang, keringat nya bercucuran hmm

namun tak ada siapapun disana, dan tak tampak apapun disana hanya setumpuk benda tak terpakai dan debu yg tebal disana sini.

"aish! bodoh! mengapa aku percaya begitu saja dengan kabar yang belum pasti, ah sudahlah, tak ada apapun disini" gikwang berjalan menuju pintu hendak keluar.

Tiba tiba muncul wanita dengan rambut berantakan, mulut tersumpal serta kaki dan tangan yang terikat, wajahnya merah bekas tamparan, rambutnya berantakan bekas jambakan, dan baju serta rok yang sangat kumal karena ia berusaha melepaskan tali dari tangannya dan menggosok nya di ujung kaki meja, dan mulutnya tertutup lakban sangat tebal.

"AAAAAAAAAAA" sontak seluruh kampus gempar dan berteriak melihat sosok wanita seperti hantu itu.

Wanita itu seperti menahan sakit dan seperti berbicara sesuatu, namun tak jelas karena tersumpal.

Gikwang berkedip, ia meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat sekarang bukanlah hantu, tapi manusia.

Gikwang memberanikan diri mendekati wanita itu, dan betapa terkejutnya ia melihat HAEGUN wanita sial yang sekarang ada di depannya dengan keadaan seperti itu.

"HHH.. HAEGUNA? HAEGUNAAA? Mwo? Apa yang.. Apa yang terjadi?" tanya gikwang melepaskan sumpalan itu.

Setelah tau bahwa itu bukan hantu tapi adalah haegun, teman baru mereka, seisi kampus pun tenang dan sekarang panik dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan haegun.

Gikwang melepaskan sumpalan itu dari mulut haegun, dan haegun menangis "Gikwangaaaaa hiks hiks hiks.."

Haegun menangis, dan terus menangis, gikwang memeluknya dan berkata "Uljima, sekarang kau aman,  aku disini, apa yang terjadi?"

Haegun masih menangis "hiks hiks.. Ara.. Dan kedua temannya yang menyekap ku disini tadi pagi hiks hiks"

Mendengar itu gikwang dan seisi kampus tak percaya, semua berteriak "Jeongmalyo? Woah aku tak menyamgka ternyata ini ulah Ara dan teman nya, dia jahat sekali!"

Haegun mengangguk dan setelah lepas tali itu dari kedua tangan dan kaki nya, ia meminta gikwang untuk mengantarnya pulang.

"Tenanglah, Ara akan kuselesaikan."

Gikwang pun membopoh Haegun di punggungnya, dan seisi kampus mengutuk Ara dan kedua teman liciknya.

"Ternyata ini semua ulah Ara, wah kita harus memberinya pelajaran!" anak kampus yg lain ikut bersimpatik atas kejadian ini. "Kasihan anak baru itu, teman pun tak ada, aku pun merasa aneh ketika dia disekap disni, musuh pun tak ada, dia anak baru"

"hh, kita harus membantu gikwang membopoh anak baru itu, Ara nanti saja kita selesaikan" kata yg lain.
"Kita tak boleh bertmena dengan Ara dan kawan kawan nya, mereka jahat, monster!"

"Ya kau benar! Kita tidak boleh berteman dengan mereka, mereka berbahaya!"

"ya benar itu!"

...

Setelah 15 menit perjalanan sampailah gikwang dan haegun di rumah, kaki dan tangan haegun masih lemas, gikwang membopoh haegun dan menduduki nya di ruang keluarga.
Melihat itu eomma kaget dan sontak menuju kursi haegun, eomma terlihat panik.

"Omo.. Apa yang terjadi haeguna? Mengapa kau lemas begini? kau sakit hh?"

"Ani ajhumma, na gwaenchanna" haegun tersenyum lemas.

"Jeongmal? Minum air putih sayang"

"mm" haegun mengangguk meyakinkan ajhumma agar tidak panik. "gomawo ajhumma"

Gikwang duduk disebelah haegun, dan mengisyaratkan kepada eomma nya kalau haegun sedang syok.

"Sudah baikan?" tanya gikwang penuh perhatian.

"Ah ye.. Gomawo" jawab haegun.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi" pinta gikwang.

Haegun pun segera menceritakan hal mengerikan itu pada gikwang dan ajhumma perlahan lahan, dengan isakan yang cukup mengisyaratkan bahwa itu sangat kejam.

Setelah mendengar penjelasan dari haegun, gikwang merasa ditipu dan sangat ingin membalas Ara. Namun ajhumma menahan gikwang,  "Biarkan dulu, Tuhan takkan diam"

Gikwang pun duduk kembali dan kembali fokus pada haegun, ia membopoh nya ke kamar, dan membiarkan haegun untuk istirahat.

Gikwang bercerita pada eomma, tentang semua kebodohan dan kebohongan yang ia lakukan pada eomma nya saat ia masih bersama Ara.

Gikwang merasa sangat dibodohi dan sangat merasa marah dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, ia sangat merasa bersalah atas apa yang telah ia sia siakan demi seorang wanita licik seperti Ara.
Begitu banyak kata kata makian dan kutukan terlontar dari mulut gikwang. Eomma hanya bisa menenangkan anaknya itu, dan menyuruhnya untuk berfikir dewasa.

"Sudahlah anakku, Biar Tuhan yang membalasnya"

"Ye eomma, mianhae jeongmal mianhae" gikwang memeluk erat eommanya, dan eomma terlihat begitu bahagia, ada hikmah dibalik semua ini pikirnya.

"Ada hikmah disetiap musibah seperti ini. Eomma sangat berterima kasih karena haegun disini hubungan eomma dengan anak eomma tersayang ini menjadi lebih baik" kata eomma.

"Ah bukan sepenuhnya karena yeoja sial itu eomma.. Dia hanya yeoja sial, tak lebih" ketus gikwang.

"Ah, jangan bohong. Kau suka kan dengan dia?"

"Mwo? Aigoo ani eomma, ani.." gikwang bergegas pergi.

"aish, bahkan wajahmu tak dapat berbohong dengan eomma, aigoo manis sekali kalian ini" eomma tertawa, sudah lama ia tak sedekat ini dengan putranya.

...

Haegun melepas pakaian kotor nya itu dan melemparkan ke keranjang dipojok ruangan.

"Sial! Ah! ini sakit sekali, ah wajahku! Awas kau Ara!" Haegun masih dendam dengan Ara, wajahnya merah menahan emosi.

"Rambutku tadi di jambaknya, pipiku di tamparnya, AHHH AKAN KUBUNUH KAU ARAAAA! AAAAAHHHHHHHHHHHHHHH" haegun tersengal sengal dan merobek apapun yang ia pegang.

"ah.. ah appo" -_-

...

Gikwang yang hendak menuju kamarnya berhenti sejenak karena mendengar teriakan haegun didalam kamarnya yang dengan bodoh tidak ia kunci, dan terlihat di sela pintu ia tengah mengutuk nama Ara dan ditangannya ia menyobek suatu kertas, da ia berdiri, dan terjatuh karena tersandung kaki meja.

"Dasar wanita ceroboh"

Dan gikwang berlalu.

...

Di pagi yang masih disuguhi embun pagi, tampak seorang yeoja yang masih rapih dalam selimut nya ia menggeliat karena handphonenya berdering berulang kali.

"aah.. Siapa sih sepagi ini?!"

Haegun mengambil hp nya yang tergeletak di meja dan segera mengangkat telepon itu.

Terdengar suara Ara di ujung sana.

"Hey kau wanita bodoh! Temui aku di belakang gedung xxx atau kau akan ku celakai! YOON ARA."

Dan terdengar suara telepon yg terputus diujung sana.

Haegun terdiam dan rasa kantuknya seketika menghilang.

"Apa tadi yang telah aku dengar?" haegun merasa hidup nya seperti diawasi. Ia segera menelepon gikwang karena ini masih pagi dan pasti gikwang blm bangun dari tidurnya.

Namun tbtb gikwang mengangkat telepon haegun, dan terdengar suara serak itu.

"mmm.. Mengapa kau menelepon ku idiot?"

Haegun menjawab "ini masalah Ara"

"mwo? untuk apa dia meneleponmu? katakan!"

"dia hendak melabrakku lagi hari ini di belakang gedung xxx pagi ini"

"ah baiklah, akan kita selesaikan masalah ini bersama sama"

"ne"

"dasar idiot, kau menelpon ku padahal kamar kita bersebrangan hh"

"kau pasti belum bangun makanya aku meneleponmu bodoh!"

"ah hm arasseo"
.
.
.

Tepat jam 07.00 haegun datang menuju gedung xxx dan gikwang mengikuti haegun dari belakang agar ara tak tau bahwa haegun datang bersama gikwang.

Haegun sampai di belakang gedung itu, dan tampak ara bersama teman teman nya sudah duduk di bangku bangku yang tergeletak tak terurus disana.

Haegun berjalan, dan ara pun berjalan..

"Apa lagi?" tanya haegun langsung ke topik.

Ara tertawa simpul, dan berjalan mendekati haegun ia hendak menjambak haegun namun ditepis oleh haegun. "Aku tak akan memakai kekerasan jika kau tak memulainya duluan!"

Haegun menarik kerah ara, dan kedua teman nya menarik tangan haegun..

Namun haegun menepis teman teman ara dengan tangan kanan dan kakinya, sementara tangan kirinya masih menjambak kerah ara.

"Ternyata kau lemah hah?" ucap haegun di depan wajah ara.

"Hh.. Aku takkan.."
Belum selesai ara berbicara, salah satu teman ara hendak memukul kepala haegun dengan kayu, namun gikwang datang dan hal itu pun gagal.

Gikwang menghampiri ara dan menatapnya penuh benci. "Ini balasanmu? Terhadap seluruh pengorbanan yang telah aku lakukan demi dirimu? INI BALASANMU?" gikwang berteriak di depan wajah ara.

"Aa.. Ani gikwangi.. Aku.. Aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" ara memelas.

"JANGAN PERNAH KAU SENTUH SEJENGKAL PUN DARI HAEGUN! ATAU KAU AKAN BERURUSAN DENGAN POLISI DENGAN KASUS PEMERASAN!"
gikwang menarik tangan haegun.

dan haegun tersenyum sinis dengan Ara.

"Mwo? aku diancam! dan aku akan berurusan dengan polisi? AH BERANTAKAN!"

dan Ara menelepon Junhyung, namun di sela amarah itu, kedua teman Ara memutuskan meninggalkan Ara dan takkan ikut dengan nya lagi.

"Hey! Kawan macam apa kalian! Vani! Rose! AHHHHH!!!"
..


To be continue😳😳

*endorse*

IG @deadarae
LINE deyydaaa
ASKFM @DeaDaraDwiElis

The First Snow with Gikwang FF Part II

Holaaa~~
In this posting i make a new ff❤

Author Lee Hae Gun a.k.a DeaDaraDwiElis

*Old Typed Sorry Alay*

Cast:
- Cha Hae Gun
- Lee Gikwang
- Yoon Ara
- Ajhumma
- Junhyung

CHAP 2

Age : 16+

"The First Snow with Gikwang FF"
Part II


...

Satpam pun memenuhi permintaan ajhumma. Pintu dibuka dan ...

"AJHUMMAAA!! LIHATLAH APA YANG MEREKA LAKUKAN!!" satpam berteriak heboh dan ajhumma segera berlari kepalanya kembali pusing bercampur amarah setelah melihat apa yang ia lihat.

Mereka bersender tumpuk ditambah lagi piyama haegun yang tak terpakai rapi akibat insiden tali kejepit.

"a..ani ajhumma, ini salah paham, m.. mian ajhumma!" haegun mencoba memperjelas keadaan.

Dan dengan cepat ajhumma menampar gikwang dan haegun.

"Apa yang kalian lakukan hah? Kalian ingin membuat eomma cepat mati?" ajhumma kesal akibat ulah mereka berdua.
"Kau Lee Gikwang! Tak pernah berfikir kah kau bahwa setiap hari rumah ini seperti neraka!? Kau tak pernah menganggap kehadiran eomma disini! Kau ingin eomma mati?! Dan kau Haegun! Aku tak habis fikir denganmu! Kalian akan kunikahkan secepatnya sebelum kabar ini meluas ke masyarakat!" ajhumma menangis, dan mengambil kebijakan sepihak tanpa menghiraukan permohonan maaf haegun.

"AA.. ANI AJHUMMA! MWOOYAAA?" teriak keduanya yang masih bersimpuh di lantai.

"Eomma! asal kau tau! Sampai kapanpun aku takkan menganggap kehadiran eomma. Tak ingat kah emma kejadian 6 tahun lalu?! Bukankah itu sudah cukup untuk menganggap kehadiran kau!? Aku berubah karena eomma! Jangan pernah kau salahkan aku, kau yang membuat aku seperti dan kau harus merasakan apa itu kepahitan!". Gikwang pergi meninggalkan ruangan itu.
Ia naik darah, ia sangat emosi setiap kali harus beradu pendapat dengan eomma nya.
Haegun terdiam memikirkan perkataan yang dilontarkan gikwang tadi, ia semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini.

/flashback 6 tahun lalu/

"Appa! Ini adalah ulang tahunku yang ke 12! Appa akan berikan aku hadiah apa? Bukankah appa berjanji padaku untuk memberikan aku kado spesial untukku?" gikwang sumringah di hari spesial nya ini, ia tak sabar menunggu hadiah dari appa nya.

"Baiklah, tunggu sebentar nak, appa mau ajak eomma juga" appa bergegas menuju ruang tamu, namun ruang tamu sangat penuh dengan kawan bisnis eomma, mereka tampak seperti sedang membahas berlian atau apalah..

"Eomma.. Bisa bicara sebentar?" appa memanggil eomma.

"Ah ye chagi, ah.. Tunggu sebentar yaa" eomma berkata pada kawan kawan bisnisnya.

"Yee appa? Wae? aku sedang ada bisnis dan harus selesai hari ini, karena omset nya besar sekali! 3miliar dalam 1 minggu!" eomma sangat bersemangat dengan bisnis nya ini.

"Aku akan mengajak gikwang untuk keliling kota dan membelikannya mobil, kuharap kau bisa ikut. Tapi... Sepertinya tak bisa?"

"Ah.. Maafkan aku gikwangaa.. Selamat ulang tahun uri adeul,kau pasti akan bahagia dengan kado appamu, eomma akan berikan apa yang kau mau sayang, tapi eomma tak bisa ikut, mian, saranghae uri gikwangi" setelah eomma mengucapkan ulang tahun, mengecup pipi nya dan eomma kembali ke ruang tamu. Sangat sibuk.

"Hhh.. Eomma tidak bisa ikut appa.. Padahal aku sangat ingin pergi bersama sama dengan eomma juga.." gikwang tampak sedih, namun appa nya menghiburnya dan mereka pergi ke tempat tujuan mereka.

...

Di perjalanan hujan turun sangat lebat, appa dan gikwang tampak sangat bahagia dan bercengkrama bersama, di tengan jalanan yang licin dan hujan lebat, tiba tiba saja rem tak berfungsi seperti biasanya dan mobil yang dikendarai appa gikwang terpental akibat jalanan yang licin ditambah udara yang gelap dan jalanan yang berada di atas sebuah tebing yang curam. Gikwang memegangi kursinya erat dan BUKKKKKK!!

mobil tepat menumbur pembatas jalan, dan mereka berdua terkejut dan sontak terjentus bagian ke depan mobilnya, hingga kepala mereka mengalirkan darah segar sangat banyak, gikwang terlihat sangat syok.

"Appa.. Appayaaa.. Appaaaa.. Aku tak apa.. nan gwaenchanna.. appa.. Bukankah ini cukup menantang? Eoh? Appa!!" ditengah kepalanya yang berdarah gikwang masih saja menganggap bahwa ini hal yang seru.

"Ye.. gikwang!... Anakku.. Ini sangat mem.. Bahagiakan.. Appa.. Sangat baha..gia.. Ma.. Masih ..bbb.. Bisa melihat se..senyummu.. Hari ...ini.. Appa .... Appa ..... pesan padamu ..... jaga... Jjj... Jaga.. eomma mu baik baik.. Dan jika... nanti polisi datang.. appa sudah ....pulang.. Aaap.. Appa... mau istirahat.. Naak.... App.. Appa le...lelah...." tiba tiba saja appa terpejam seperti tidur dan tangannya menjuntai, kepalanya, bibirnya yang dipenuhi darah masih tersenyum pada gikwang.

"Appa! Appa!!! Bangunlaah! apa maksudmu pulang?! Appa ... Appa ini bukan dirumah! Appa bangunlah! Appa!!!!!" gikwang menangis melihat keadaan appa nya, ia bingung harus apa.

Tiba tiba ia teringat ponselnya di kantungnya, ia cepat menelepon eommanya ..
Hanya terdengar suara tersambung, namun tak kunjung diangkat oleh eommanya.

"Eomma!! Kumohon angkatlah! Pallieee!!"
Hampir puluhan kali gikwang menelepon eommanya namun tak pernah diangkat eommanya.

Gikwang menangis ketakutan melihat ayahnya yang sudah bermandikan darah dan keadaan pintu yang terkunci.

Setelah hampir 10 menit, mobil polisi datang dan segera mengevakuasi tkp, gikwang langsung dibawa kerumah sakit. Namun gikwang tak merasakan sakit apapun hanya hatinya yang perih melihat appanya sudah tak bernyawa.

/flashback off/

Gikwang kembali teringat kejadian 6 tahun lalu. Hatinya masih sakit mengingat senyum terakhir appanya, dan hatinya menjadi panas emosi setiap mengingat eomma nya yang tak mengangkat telefon nya saat keadaan appanya sangat kritis.

"Hhh.. Bukankah ini adil? Sakit yang aku rasakan akan dirasakan eomma juga?! Hh.. aku benci semuanya seandainya saat itu ia mengangkat telefon mungkin hal ini takkan terjadi, ini semua ulahmu HAH!!" gikwang kembali emosi dan melempar semua barangnya ke lantai.

....

Hari minggu yang cerah..
Haegun tidak tidur semalaman suntuk memikirkan bagaimana ia harus menyelesaikan masalah keluarga ini. ia ingin membantu karena ia telah diberikan tempat tinggal disini dan sudah basah juga ia telah mengetahui ada masalah antara ajhumma dan anak nya itu.

"Apa yang aku harus lakukan? Anak dan eomma nya yang berselisih karena masa lalu.. Aku harus apa? Aku harus tau dulu apa yang terjadi dimasa lalu" haegun merasakan kepalanya berputar mencari argumen masa lalu.

"Sebenarnya siapa yang salah?"

"Haruskah aku memberi saran pada ajhumma?!"

"Atau.. Aku .. ah! Baiklah.."

"tapi.. bahkan cerita nya pun aku tak tau"

...

Udara pagi begitu dingin, terasa menusuk tulang siapapun yang mencoba menantangnya.
Ajhumma.. Sepagi ini sudah berdiri di ambang jendela memikirkan nasib keluarganya yang semakin hari semakin rumit saja.
Tiba tiba terdengar bunyi pintunya yang diketuk.

"Masuklah" ajhumma berjalan menuju kursi dan duduk disana.
"Ah.. Kau haegun.. Ada apa? apa ada masalah lagi dengan anaakku?"

Haegun bernafas panjang sebelum mengatakan apa yang ia ingin katakan.

"ah ani, ajhumma.. Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku tadi pagi, sungguh aku tak sengaja dan aku.."

"Sudahlah, aku yang salah karena aku sudah bertindak kasar denganmu.. Maafkan ajhumma.."

"Aa.. Ani ajhumma.. Maafkan aku.. Mmm ajhumma.."

"hm" ajhumma melihat lingkaran hitam di mata haegun, "matamu.. wae? neo gwaenchanna?"

"Ah.. Tidak apa apa.. aku hanya kurang tidur saja ajhumma.. Ajhumma.. Aaa mian kalau aku memberi saran yang mungkin salah, tapi.. Ajhumma bukankah lebih baik kalau ajhumma meminta maaf dengan gikwang? Bukankah ajhumma tak mau masalah ini berlarut larut sampai ajhumma tua?"

"A.. Ajhumma sudah sering meminta maaf namun gikwang tak pernah mau memaafkan ajhumma.." ajhumma menangis.

"Aa.. Sabarlah ajhumma, sifat anak muda yang tak mau mengalah dan merasa selalu benar, ia tak sadar bahwa ia telah menyakiti hati eomma nya sendiri" haegun memeluk ajhumma "baiklah aku akan membantumu ajhumma"

"Terimakasih haegunssi"

...

Haegun berjalan menuju kamar gikwang, kepalanya masih pusing memikirkan apa yang harus ia katakan pada gikwang terkait masalah itu.

Tok.. Tok.. Tok..

Namun tak ada jawaban..

Kembali haegun mengetuk pintu gikwang

Tok.. Tok.. Tok..

Terdengar suara dari dalam "SIAPA?"

haegun menjawab "AKU! GADIS SIAL!"

Terdengar lagi suara dari dalam "UNTUK APA KAU KEMARI BODOH! PERGI ATAU KAU AKAN KUUSIR DARI SINI!"

Haegun mencoba sabar "YAAKK?! CEPAT BUKA PINTU ATAU AKAN KUKUNCI PINTUMU DARI LUAR"

Namun tidak ada balasan dari gikwang, haegun segera membuka pintu, dan melihat gikwang yang terbungkus selimut dengan keadaan kamar yang seperti kapal pecah, kursi yang dimana mana, baju, dan peralatan lainnya yang berantakan.

"Aigoo! Ini kamar atau kandang ternak sapi? bahkan disana lebih rapi dari kamarmu. Tuhannn mahluk macam apa kau ini?!" haegun tidak bisa menahan diri untuk mengocehi gikwang kalau sudah bertemu dengannya.

"Cepat katakan kau ingin apa kemari? Cepat!"

"Aishhh sabarlah sedikit, Mm.. kau masih marah dengan eommamu? yaak ceritalah padaku" haegun siap menerima teriakan apapun dari gikwang. Ia sudah menutup telinganya.

Namun tidak ada teriakan yang ia dengar, malah seperti suara tangisan kecil yang ia dengar.

"Yaak gikwanga.. Apa kau menangis? Kalau kau ingin teman untuk berbagi kesedihan, aku disini siap untukmu, katakanlah, aku akan membantumu" kata haegun dengan tulus.

"Teman? Tidak ada seseorang pun yang kusebut teman didunia ini! Semuanya hanya lah hal tak penting dan aku tak butuh teman!" gikwang masih terlihat sangat emosi.

"Tidak.. Kau salah, aku menemukan banyak teman yang peduli denganku, bahkan membantuku tanpa pamrih, apakah kau tak tau hal itu?"

"Tidak!"

"Kau tau? Aku adalah sebatang kara.. Eomma dan appaku meninggal pada saat aku masih berumur 10 tahun. Mereka pergi begitu saja, dan aku hidup dari teman.. Mereka yang menyisihkan makanan untukku. Memberikan aku uang, memberikan aku ruang, dan memberikan aku kebahagiaan. Hingga akhirnya kami berpisah karena mereka harus melanjutkan studi mereka ke luar negeri, dan aku sangat bersyukur bertemu eomma mu yang rela memberikan ruang untuk orang seperti ku, bahkan eomma mu sudah ku anggap sebagai eomma ku sendiri." kata haegun panjang lebar..

"Ambillah ia sebagai eomma mu jika kau mau, aku tak butuh dia!" ketus gikwang.

"Oh ya? Kau tak butuh eomma? Kau tak akan besar dan hidup di dunia ini! Kau tau? Eomma mu menahan sakit yang hampir mati saat melahirkan mu! Dan darah, keringat, serta waktu saat melahirkanmu takkan bisa kau bayar walaupun sampai kau mati!"

"Tapi ia adalah penghianat appaku! Ia tak bertindak apapun saat aku ingin meminta pertolongan dan memberinya kabar bahwa appa sudah tidak ada! Bukankah itu sakit! dia yang menghianati keluarga ini dan ia harus kembali dihianati"

"Aku tau perasaanmu, tapi eommamu juga manusia! Ia kulihat tak pernah tidur nyenyak akibat ulahmu! Apakah kau ingin melihat eomma mu mati juga baru kau ingin minta maaf dengannya?"

"Tidak!"

"Lalu?"

"Aku malu!"

"Malu karena apa?"

"Malu meminta maaf dengannya! aku malu dengan semua ulahku selama ini aku tak ingin ia meninggalkanku juga tapi aku ingin dia sadar dengan apa yang dilakukannya di masa lalu."

"Kau ingin ku bantu?"

"Shh.. Kau bisa apa!? Kau kan bodoh!"

"YAAK?!"

"Baiklah" kata gikwang, wajahnya terlihat sedikit lega.

"Tapi ini semua tidak gratis! Kau harus mengantar ku kuliah setiap hari dalam 1 bulan!" haegun mencari tebengan hm.

"Aishh.. Baiklah!"

...

Haegun mendorong kuat gikwang untuk cepat masuk ke dalam ruangan eommanya.

"aigoo pallie"

"Aish kau ini!" gikwang menatap tajam ke arah haegun yang tampak cengar cengir melihat gikwang yang gugup setengah mati.

"Pallie"

Di ruang itu.. Eomma sedang berbaring dan tampak di sebuah meja terdapat obat obatan yang ntah apa khasiatnya. Eomma terlihat seperti memikirkan sesuatu, matanya melihat jauh ntah kemana, dan terlihat kurus bagaikan tak berdaging lagi.

Langkah demi langkah gikwang berjalan.. Sampailah ia di tepi ranjang eommanya.

"Eo..eomma.." terlihat dari matanya, gikwang menahan suaranya agar tak terdengar ingin menangis.

"A... Nugu? Gikwang? ah, uri adeul" eomma yang berbaring langsung duduk mendengar suara lirih itu. "Gikwangaa uri adeul! Ada apa sayang? Mm?"

"Mian." gikwang tak dapat mengucapkan banyak kata kata.

"Mian? Tak usah minta maaf pada eomma sayang.. Eomma yang.. Sss...salah padamu.. Eomma sudah menghiraukan panggilanmu disaat appamu meninggal.. Eomma sangat.. Sangat menyesal saat itu.. Tapi kau bersikeras tak mau memaafkan eomma.. Eomma tau kau marah.. Tapi... Eomma.. Tak bisa berbuat apa apa..." seketika eomma menangis haru dan memeluk gikwang erat. Ia penuh penyesalan.

"Nado eomma.. Aku sudah durhaka terhadapmu, Maafkan aku, eomma.." gikwang ikut menangis.

Jadilah eomma dan anak yang saling meminta maaf dan penuh tangis kebahagiaan. Haegun yang menyaksikan dari jauh sangat berterimakasih pada tuhan "hhh baiklah. Perkara eomma dan anak sudah selesai, hm hanya seperti ini, dipermudah syukurlah".

Disaat haegun mencoba untuk melangkah menuju untuk beristirahat tiba tiba...

"cha hae gun! Untuk apa kau bersembunyi disana, kemarilah, kau fikir aku tak tau kau sudah menguping?" ternyata ajhumma melihat bahwa haegun ikut menyaksikan kedua anak dan eomma yang saling bermaafan dan saling merangkul bahagia.

"Aa.. Yee.. Ajhumma" haegun tak tau harus memasang wajah apa. Ia hanya tertunduk dan kikuk. "Kk.. Keundae.. Cukkhae.. Karena kalian sudah berbaikan, mmm... Maaf aku sudah menguping tadi"

"Dasar wanita penguping. Yaakk eomma untuk apa kau biarkan wanita sial ini disini?" dan gikwang mulai protes dengan manjanya pada eomma nya.

"Aigooo... Manja itu sudah dapat kulihat lagi. Yaak uri adeul, kau tau eomma berhutang budi padanya. Ia sudah menyelamatkan eomma dari pencopet. Dan ia juga sudah memberi eomma motifasi. Harusnya kau bersyukur.. Aaa tunggu... Bukankah.." ajhumma terlihat mengingat sesuatu.

"Jangan jangan.. Masalah tadi pagi? Aishhhh!!!" haegun merasa tidak enak, ia seperti lunglai. Haegun bersiap untuk keluar dari kamar eomma, namun..

"Aaa.. Aku masih belum bertanya masalah kalian tadi pagi. Gikwang! Kau ingin eomma tulus memaafkan kesalahan mu sedari kecil?" tantang eomma, kini eomma terlihat licik.

"Aigoo.. Memangnya eomma masih belum memaafkan aku? Aaaa appaaayaa" gikwang mulai merengek.

"Aigoo,matilah aku disni aishh" haegun yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menahan geli melihat gikwang dan mencari cara menghentikan eomma.

"Aish mati kau menertawakan aku!" gikwang hendak menjitak haegun.

"Jangan bertindak kasar dengan calon istrimu. Baiklah sedikit padanya" kata eomma penuh tawa bahagia.

"Ye?" haegun merasa kaget.

"YAA EOMMA?!??" gikwang juga, hampir ia ingin memaki eomma nya, namun tak jadi hm

"Yee.. Kalian akan kunikahkan secepatnya. Jangan salahkan eomma, ini semua akibat ulah kalian sendiri, lagipula kalian terlihat serasi dan mata kalian tak dapat berbohong dengan eomma eoh" eomma menahan geli. "Baiklah kembali lah ke kamar kalian, sudah malam, cepat istirahat, niteu, ah pallie kka"

"Tapi ajhumma.." haegun masih tidak percaya.

"Eommaaa, Aku hanya mencintai Ara dia wanita ku, bukan wanita sial ini, dia bodoh eomma, bagaimana kalau nanti anakku akan bodoh juga seperti dia eomma?" gikwang kembali merengek namun kali ini eomma nya tak menggubris.

Haegun menahan rasa kesal, namun ia mencoba untuk tidak memaki gikwang di depan ajhumma.

...

"Ini akibat kau sial" gikwang menatap tajam ke arah haegun.

"Yaak! Kau yang salah dasar bodoh! Kalau saja kau tak usil ingin merobek tali piyama ku mungkin tidak akan serumit ini kejadiannya!" haegun menjawab.

"Tapi ini semua akibat kau! Karena piyamamu! aku harus membakar piyama itu, baru saja insiden tali sudah membuatku sial. Bagaimana kalau piyama itu berada di rumah ini? Keluarga ku akan hancur! Itu harus kumusnahkan!" gikwang berjalan menuju ruang haegun dengan cepat dan dengan ambisi yang berapi api-_-

"Andwae! Yaakk!!"
"Gikwangaaa"
"Jebalyoo.. Andwae"
"andwae! Andweeee!!"

Namun gikwang tak mendengar itu. Ia tetap saja mencari piyama itu di lemari haegun. Hingga akhirnya haegun menangis dan berlutut pada gikwang.

"Andwaee!! Kumohon gikwangaa. Apapun akan kulakukan. Asal jangan kau bakar piyama itu." haegun berkata sambil menangis.

"Mm.. Apapun?" kata gikwang.

"Ye.. Apapun! Asal jangan piyama itu"

"Baiklah.. Tapi aku mau kau..." gikwang berfikir sejenak.

"Ye! Mwo!! Pallie!! Apapun itu akan kulakukan!" haegun menahan kesalnya terhadap lelaki pabo ini-_-

"Baiklah.. Tapi aku mau kau melayaniku selama
.. Selamanya!" gikwang tersenyum penuh kemenangan dan sangat sombong!

"Mwo? Melayanimu? Kau kira aku pembantumu! Shireo! Yaak aku sudah membantumu! Kau berhutang budi padaku!"

"Baiklah mmm, mianhae, tapi kau takkan melihat piyama itu lagi mulai detik ini" gikwang lari, dan bersiap memegang piyama itu dan bersiap membakarnya.

"Aish! Baiklah! oke oke! aku akan melayanimu. Tapi.. Selamanya? Kau jahat sekali. yaak selama itukah?"

"Mau.. Atau .... Tidak?" gikwang sangat jual mahal.

"Kalau saja eomma ku masih ada, aku takkan sudi melayanimu!" haegun semakin emosi dibuatnya. Haegun pasrah saja karena hanya piyama itu satu satunya peninggalan dari eomma nya yg skarang ntah ada dimana.

"Baiklah pelayankuuu.. Aku sangat lelah sekarang.. Cepat bawa aku ke kamarku. Atau kita tidur saja berdua disini? Ah iya aku lupa aku tak mau ternoda karena wanita bodoh seperti mu, ara lebih cantik darimu hahaha" kata gikwang dengan candaan yang hampir membuat seisi perut haegun ingin keluar.

"KAU INGIN MATI?" haegun menjitak gikwang.

"Yaakk! Palie ah aku sudah mengantuk, pallie gotong aku" gikwang merebahkan tubuhnya di ranjang haegun.

"Aish cepatlah bangun!" haegun menyeret tubuh kekar gikwang dengan kasar karena kesal.

"Yakk yakk! Mengapa kau menyeretku? Gendong akuu, aigoo kasar sekali wanita ini!" gikwang purapura lemas dan menjatuhkan diri dipunggung haegun. "Pallie"

"Aigooo... Ini berat sekali! Yaakkkk gikwangaaaaaa!!" haegun hampir saja roboh menahan berat gikwang dipunggugnya.

...

Haegun yang hampir saja patah tulang karena menggendong gikwang akhirnya lega. Lelaki itu sudah ia gulingkan di kasurnya sendiri.

"Hhh berat sekali kau! Dasar! Baiklah aku mau kembali ke kamarku" haegun berjalan tapi ia merasa tangannya ditarik oleh gikwang.

"Kau harus disini. Kipasi aku!" perintah gikwang

"Tapi kan ada ac bodoh!"

"Shireo! Terlalu dingin bagiku tak baik bagi kulitku yang mahal ini hahaha" gikwang sangat sengaja membuat haegun lelah, gikwang mematikan ac nya, gikwang sengaja membuat haegun tidak kerasan tinggal dirumahnya, ia tidak mau menikah degannya. Ia teringat yoon ara, kekasihnya. "Pallie kipasi aku!"

Haegun membawa kipas tangan dan mengipasinya sambil berdiri.

"Untuk apa kau berdiri disana bodoh! Naiklah ke kasur bersamaku!" kata gikwang, ia menahan geli. Dalam hati ia berbicara "tak lama lagi kau akan pergi dari sini haegunaaa! Aku akan terbebas dan segera menikah dengan ara,ah ne nan yeoja"

"Shireooo!!" haegun menghancurkan lamunan gikwang, ia memilih untuk berdiri daripada 1 ranjang dengan namja yang kekar namun menyebalkan ini.

"ah kipasanmu lemah sekali!" gikwang sengaja membuka bajunya dan celananya hingga tersisa boxer nya saja, ia tak menganggap kehadiran haegun.

Haegun yang melihat gikwang melucuti pakaiannya hanya bisa diam dan.. Tersadar. "Yaakkk! Apa yang..kau lakukan! Cepat pakai bajumu! Kau kira tubuhmu akan membuatku luluh? Tidak! Tubuhmu jelek dan pendek! dasar tak sopan!" haegun mengatakannya penuh rasa kebencian seperti anak kecil, haegun memalingkan wajahnya.

"APA APAAN KAU?! SEHARUSNYA KAU BERSYUKUR BISA MELIHAT TUBUHKU YANG INDAH INI! Kipasanmu itu tak terasa bagiku! Sekarang disini bagaikan neraka ah angat panas! Cepat kipasi aku!"

"Aish! Manusia macam apa kau ini! Kalau saja kau bukan anak dari ajhumma, sudah ku pukuli, ku mutilasi dan kau ku buang ke jurang!" kata haegun.

"Mwo?" gikwang mendengarnya.

"Ani!" haegun mengelak.

"Yakk! Dasar yeoja sial!"
Gikwang berfikir sambil menjahili haegun, ia harus mencari tahu bagaimana membuatnya tak kuat disini.

Tiba tiba saja haegun menegur gikwang "Yakk namja pabo! Apa yang kau fikirkan? Kau mencari cara untuk mengusirku? Tidak akan ada cara bagimu untuk mengusirku hhh!" haegun sinis.

"Sombong sekali kau! Kemari kau yeoja bodoh!" gikwang yang kesal menarik leher haegun dan mengapitnya di ketiak nya.

"Yaakk lepaskan aku gikwanga!! Ketiakmu berkeringat! Hmfffhhh! Awas kauuummmffhh!! Besok akan ku hmmfghhhhh cincang kauuuu!!!!! Hmmmffhhhh lepaskan akuuu!!! Yaakk namja babo! Lee gikwanghhhmmmfff!! Yaak! Lepaskan aku! Hmmmffhh yaakk! GIKWANGAAAA!!!" haegun memberontak dan memukuli tangan gikwang, namun pukulannya tidak ada efek bagi namja sekekar gikwang.

"Cepat lepaskan aku bodoh! Hmmmffhhhhhhhhh.. Aku tak bisa bernafas! Atau aku akan berteriak! Hhhhmmmfff. Gikwangaaaaaa!" haegun mencari cara agar bisa lepas dari gikwang.

"Teriak saja! Sampai pagi pun takkan ada yang menolongmu! Ruangku kedap suara! Kau akan kiamat haegunssi" gikwang tertawa karena memiliki bahan mainan baru.

"Aku hmmffhhhh.. Takkan sudi hmmmfhhh.. menikah denganmu! Belum hmmmfhhh menikah saja sudah kau siksa akuu. Mungkin hmfhh menikah denganmu 1 jam kemudian aku hmmmf sudah tewas!"
Haegun mencari cara agar lepas darinya. Tiba tiba 'krekkk' haegun menggigit lengan gikwang.

"Aaaa... Aish kau ini, siapa juga yang ingin menikah dengan wanita bodoh, sial sepertimu!" gikwang yang tadinya duduk, merebahkan diri di kasur, dengan haegun yang tetap ada di ketiaknya. Ia berbaring miring.

"Apa?!! Lepaskan akuuhhhmmmmffff?!!" haegun menjambak gikwang, lagi lagi gikwang hanya terdiam.

"Nikmati saja dulu ketiakku ini sebelum kau takkan bisa menyentuhnya lagi! Aku akan menikahi Yoon Ara! dan kau takkan bisa menyentuh bahkan melihatnya pun mustahil" gikwang tersenyum dan memgangi kepala haegun.

"Hmmmffhh! Apa urusanku! Hmmfhh aku hmfhhh tak perhmffffffduli. Yaakkk aku tak bisa bernafas!" haegun semakin sesak nafas.

"Chinca?! eoh baiklahh agar kau cepat mati gadis sial" tawa gikwang.

"Yaakk gikwanga! Mati kau besok!" haegun hanya bisa pasrah dan terlelap di ketiak gikwang.

...

Alarm berbunyi sangat nyaring menunjukkan pukul 06.00, kedua insan penuh keanehan itu masih terlelap tanpa terganggu adanya dering dari alarm yang sangat nyaring itu.

Drt.. Drt.. Drt..
Ponsel gikwang bergetar, ternyata Yoon Ara meneleponnya.

Gikwang langsung terbangun mematikan alarm dan mencari ponsel nya.

"Aish sepagi ini dia menelefon hoamm" gikwang mencari ponselnya dan menarik lengan nya dari tindihan kepala haegun.

Haegun terbangun, dan tertidur lagi.

Gikwang mengangkat telefon dari kekasihnya.
"Ah.. Ara.. Morning. Tepat sekali chagi kau membangunkanku terimakasih" gikwang masih menutup matanya.

Tiba tiba haegun terbangun dan tersadar, ia kebelet buang air kecil. Dan mengguncangkan tubuh gikwang "Yakk aku pinjam kamar mandimu eoh? Aku sudah tak kuat!" haegun tak sadar gikwang sedang bertelefon, matanya masih terkatup.


 /ara pov/

"Chagi.. Morning!.. Pallie bangun! Pangeranku harus bersiap mandi lalu kita berangkat bersama oke?" ara berkata penuh kebohongan yang mampu membius gikwang.

Dan terdengar suara gikwang disana.
"Ah.. Mmm.. Ara.. Morning. Tepat sekali chagi kau membangunkanku terimakasih"

Baru saja ara ingin membuka mulut menjawab gikwang, tiba tiba terdengar suara perempuan dari dekat gikwang.
"Yakk aku pinjam kamar mandimu eoh? Aku sudah tak kuat!"

Ara seperti tersambar petir mendengar suara yeoja di seberang sana, ia naik pitam, ternyata ia berani menyelingkuhiku juga fikir nya. "bajingan ini, aku tertipu" pikirnya.

Ara emosi.
"YAKK SUARA SIAPA ITU? MENGAPA ADA SUARA WANITA DISANA? KAU BERANI BERMAIN WANITA LAIN SELAIN DENGANKU EOH? KAU..."

Dan terdengar suara dari ujung sana.

"aa.. Ani chagi. Itu hanya suara yeoja dari tv ku, ah aku sedang melihat siaran tv dan .. Jangan berfikir tidak tidak denganku chagi.. Aku sedang menonton dvd disini, ah yaa, aku lupa kalau semalam aku memutar dvd kesayanganku, ah mian chagi sudah membuatmu marah" gikwang berbohong.

/ara pov end/

setelah dari kamar mandi, haegun tau kalau gikwang sedang mengangkat telepon dari ara, dengan cepat haegun segera akting dengan suara yang centil dan keras.

"Aaaa chagiaaa gikwangaaa! Aku sudah tidak kuat cepatlaah Oppaaaa paliieee kemarilah!" haegun yang menyadari terjadi perselisihan dengan Ara, musuh haegun, haegun sengaja membuat gikwang dan ara berakhir. Haegun menahan tawa nya. "Kau yang akan kubuat kiamat gikwang! Kau akan KIAMAT!" haegun menahana tawanya.

Dan terdengar suara ara disana "dia memanggilmu chagi? Oppa? Cepatlah? Yaakk! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN YEOJA ITU!?"

Lalu gikwang pun melirik tajam ke arah haegun. Ia pun berbicara lagi dengan ara "Ah ani chagi, kau salah dengar, itu hanya suara tv, ah sudahlah ayo kita bersiap mandi chagi hehe" kata gikwang kikuk.

Dan terdengar suara ara lagi diujung sana "SHIREO! JANGAN SEBUT AKU PACARMU LAGI! KITA BERAKHIR! KAU BAJINGAN"

Gikwang mengelak "Mwo?? Tt.. Tapi.. Tapi chagi?!"

dan terdengar suara telefon yang terputus.

"AAAAA! KAUUUU!!!!" gikwang yang emosi mengejar dan melempari haegun dengan bantalnya.
Haegun dengan puas tertawa "HAHAHHAHA PUAS KAU! KUBUAT KAU BERAKHIR! KIAMAT KAUUU LEE GIKWANG! KAU KIRA AKU TAK BISA BERBUAT APA APA HAHAHHAHAHAHA!" haegun berlari keatas kasur, ke sudut dan kemudian keluar.

Dan saat keluar dari kamar gikwang, haegun tak sengaja menabrak ajhumma yang hendak membangunkan gikwang di depan pintu gikwang. "Aaa.. mian, ah pagi ajhumma" haegun tersenyum masih geli dengan keberhasilan nya menghancurkan hubungan gikwang dan ara, dan langsung lari dan menuju kamarnya.

"Hhh.. Haegunaa.. Ttt.. Tapi.." ajhumma bingung melihat haegun yang berantakan keluar dari kamar gikwang.

Baru saja ajhumma hendak mendorong pintu gikwang, dan gikwang membuka pintunya dengan membawa bantalnya sambil berlari dengan tidak menggunakan bajunya namun hanya boxer nya saja "aaaa.. Eomma.. Pagi eomma?! Kemana dia, lari kemana dia eomma?" gikwang masih belum puas membalas haegun, gikwang mencium pipi eommanya, dan lari lagi menuju kamar haegun masih dengan banta di tangannya.

Ajhumma berdiri di depan pintu dan melihat kamar, perabotan, kursi, dan seprai yang berantakan itu membuat ajhumma kesal pada gikwang, ia merasa ingin pingsan dan terpatung, ia bingung sebenarnya apa yang terjadi.

Ajhumma berteriak "YAKK! GIKWANGA? APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN HAEGUN HAH? MENGAPA KAU HANYA MENGGUNAKAN BOXER SAJA HAH?"

Ajhumma menarik nafas dalam, menariknya dan menghembuskan lagi "Tuhannn"

Dan gikwang menutup bagian bawah tubuhnya menggunakan bantal ia lupa dan segera tersenyum kikuk dan segera terdiam di tempat ia berdiri, ia malu pada eomma nya dan berlari kembali ke kamarnya dengan bantal yg menutupi bagian bawah tubuhnya.
Gikwang tersenyum kikuk, dan segera menutup pintunya.

Ajhumma memegangi kepalanya, dan berjalan menuju kamar haegun..

Tok tok tok..

Dan haegun keluar menggunakan piyama, ia bersiap akan mandi.

"Ah ye ajhumma?"

Ajhumma masih memegangi kepalanya "kau.. Tidak diapa apakan anakku kan? Ah.. Kepala ajhumma pusing! Sebenarnya apa yang terjadi?!"

Dan haegun menjawab "ani.. Ajhumm.." belum saja haegun selesai berbicara, ajhumma sudaah ambruk pingsan. "ah, ajhumma.. aigoo"

/ara pov/

"Ah bajigan! Aishh apa yang ia lakukan dengan yeoja lain sepagi ini?"
Ara yang masih bertanya tanya mondar mandir mengira ngira apa yang terjadi dengan gikwang.

"Berani sekali dia menyelingkuhiku, bermain api denganku!"

"Aaahhh kurang ajar!"

"Baru saja aku akan memeras kekayaan nya! Aaaaahhh bodohh! Mengapa aku memutuskan nya? Ah!"

Lalu ara pun menelefon seorang namja disana.

"Junhyunga..."


....

Are you curious, with who's Junhyung?

Just wait this ff on Part III

COMING SOON

To be continue😳😳

*endorse*

IG @deadarae
LINE deyydaaa
ASKFM @DeaDaraDwiElis

The First Snow with Gikwang FF Part I

Holaaa~~
In this posting i make a new ff❤

Author Lee Hae Gun a.k.a DeaDaraDwiElis

*Old Typed Sorry Alay*

Cast:
- Cha Hae Gun
- Lee Gikwang
- Yoon Ara
- Ajhumma

Age : 16+

PART 1

"The First Snow with Gikwang FF"
Part I


Kring... Kring... Kring...

Dering yang menyebalkan itu kembali terdengar, rasanya aku lelah sekali untuk bangun dan melihat hp ku.

"Aish.. Merusak mimpiku saja!"

Namja bertubuh kekar dengan wajah cute dan berotot lumayan besar, dengan malasnya ia membuka selimutnya dan bergegas meraih hp nya.

"CHAGI~~~~ PAGI~~~~" terdengar suara yeoja diujung sana, sangat melengking dan hampir merusak telinga siapapun yang mendengarnya.

"Ah.. Ye chagia, pagi juga, terimakasih sudah membangunkanku"

.....

Disebuah desa yang begitu damai dan tenteram sangat terasa nuansa alaminya, terlihat seorang wanita muda sedang bersiap untuk menuju ke sebuah tempat, terlihat ia sangat terburu buru.

"Omoooo... 12 menit lagi kelas akan dimulai! Aishhhh bodohhhh!!" ia terus saja menggerutu.

Ternyata wanita muda ini ialah seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama di seoul. Ia mahasiswa baru yang hendak mencoba untuk disiplin di hari pertama nya ia berstatus sebagai mahasiswa.

....

"Chagiaaa.. Haloo.. Yaak gikwanga.. Palliee.. 10 menit kelas akan dimulai! Aku tak ingin pangeranku ini akan telat di hari pertama bersekolah dikampus ini, pallie chagi!! Aku menunggumu di dekat kelas kita. Pallie!'

Begitulah isi sms yang diterima namja bernama Gikwang ini, ia tak berniat untuk membalas nya karena ia sedang ada di perjalanan menuju kampusnya.

"Hmm.. 10 menit lagi! Bahkan walaupun 5 detik lagi itu takkan jadi masalah bagiku, dasar yeoja cerewet, kalau saja tidak cantik sudah ku putuskan dia. Hh"

Dengan tidak melihat kesekitar, gikwang langsung membelokkan mobilnya menuju gerbang kampusnya tiba tiba seorang yeoja yang terlihat sedikit kusam berlari tepat di depan mobil gikwang, gikwang terkejut dan mengerem secara cepat, spontan gikwang hampir lepas dari belt nya dan hampir menabrak kaca dalam mobilnya sendiri.
Yeoja itu pun terlihat kaget, dan mematung di depan mobil gikwang, raut wajahnya semakin lama semakin merah menandakan ia emosi.

Yeojaa itu berjalan menuju ke arah pintu mobil gikwang dan memaksa gikwang untuk keluar.

"Hei bodoh! Keluar kau! Dasarrr kau bodoh! Dimana matamu?! Pakai matamu! Dasar orang kaya tapi bodoh!" wanita itu hampir saja melemparkan sepatunya kalau saja namja itu tidak bergegas pergi.

"Dasar yeoja! Selalu saja merasa benar, membuang buang waktu saja!" dan gikwang pun bergegas meninggalkan yeoja itu yang masih menahan emosinya.

"Awas saja, sekali lagi kita bertemu kau akan kubunuh!" yeoja itu pergi dengan ocehan yang hanya dia dan tuhan yg tau-_-

....

"Chagiaaaaa.. Aish lama sekali kau sampai disini? Aku hampir membatu menunggumu sayang.. Ayoo masuk kelas, aku senang sekali bisa satu kelas dengan mu chagi" pacar gikwang, Yoon Ara, ia memang begitu mendewakan gikwang bahkan pujiannya untuk gikwang melebihi tingginya langit dan dalam nya lautan._.

"Ah, aku juga chagi" jawab gikwang.

Baru saja 2 langkah gikwang dan ara hendak duduk di bangku mereka, datang wanita dengan terengah engah dan berkeringat menyerobot gikwang dan ara.

"Permisi.." kata wanita itu.

"Yaak! Yaak!" ara menarik baju wanita itu.
Dan gikwang tak menyadari bahwa itu adalah wanita yang sempat ribut dengannya tadi pagi.

"Cha Hae Gun, mmm kau kira ini kelas milikmu hah? Mengapa kau tanpa sopan santun menabrak aku dan pacarku?! Kau tak suka!? Hah?" ara emosi.

"Aa.. Ani.. Maafkan aku. Aku tak sengaja, aku anak baru di universitas ini jadi aku harus cepat mencari kelasku.. Tap..." belum selesai haegun berbicara, ara sudah memotongnya.

"Ohhh.. Jadi kau anak baru? Bagus sekali anak baru sudah berkenalan denganku, wohhh.. Sekali kau berkenalan denganku, kau takkan bisa lepas dariku!!" ancam ara. "Cepat kau minta maaf pada pacarku, kasihan dia kau tubruk, dasar bodoh!"

"Aaa.. Mmm... Maaf.. YAAAKKK!! KAU KAN LAKI LAKI YANG TADI PAGI HAMPIR MENABRAK KU KAN? oke kita impas, aku takkan sudi minta maaf denganmu!" haegun masih emosi dengan laki laki ini.

"Hei! Apa apaan ini? apa yang terjadi? Jadi .. Ah tidak mungkin pangeranku ini hampir menabrakmu! Pasti kau yang hampir menabrak pangeranku!" ara menatap tajam haegun sambil meraba tangan gikwang ada yang luka atau tidak.

"Aigoo.. Susah sekali berbicara dengan nenek sihir ini!" haegun bergegas meninggalkan mereka berdua.

... KELAS DIMULAI ...

"Pagi anak anak.. Bagaimana hari pertama kalian di kelas ini? All of you guys are fine right?" dudu songsangnim menyapa mereka.

"Fine sir" jawab mereka serentak.

"Aigooo.. Mengapa lemas sekali? Oh apakah karena kalian duduk sendiri sendiri dan berjauhan dengan teman kalian? Ah.. Baiklah aku akan mengubah menjadi sebangku 2 orang dengan 1 laki laki dan 1 wanita, kurasa cukup.."

"Ah bagus sekali! Pasti aku akan duduk dengan pangeranku, aaa aku akan memandanginya setiap saat! Dia akan kubuat tergila padaku hahahahahaha" batin ara.

Setelah hampir 25 menit dudu songsaengnim merombak tempat duduk mereka, tibalah nama ara yang dipanggil.

"Ara.. Kau duduk dengan lee gik... Aaa tidak, kau dengan Lee Wuhyoon"

"MWO?!! TAPI SIR?!!!"

"Sudah lah cepat duduk, kelas takkan bisa dimulai kalau kau tidak cepat duduk. Haa.. Tersisa lee gikwang dan dan cha hae gun, kalian duduk di ujung sana yaaa pallie!"

Tempat duduk yang amat jauh dari papan tulis dan cukup jauh dari meja ara. Gikwang hanya diam saja, tapi haegun menatap ke sisi lain, ia masih muak dengan gikwang, hingga akhirnya ia tidak bisa menahannya.. Dan..

'Bukkkk'

Haegun menginjak kaki gikwang sangat kuat dengan sepatu high hils nya, dan gikwang pun berteriak, dan seisi kelas menengok kearah gikwang dan haegun.
Namun haegun dengan sigap menutup mulut gikwang, namun gikwang sangat kesakitan dan akhirnya terjatuh ke lantai dari kursinya, karena tangan haegun berada di sisi mulut gikwang ia pun ikut terjatuh dan tepat sekali menimpah gikwang.

Seisi kelas ribut.
"Woahhhhhhhhh"

 Tak terkecuali ara, ia berlari ke arah gikwang dan membangunkannya.

"Kau tak apa chagi? Mana yang sakit?"

Namun gikwang tak menjawab pertanyaan ara, gikwang menatap sinis haegun dan kembali menginjak kakinya seperti yg dilakukan oleh haegun padanya tadi.

"Bukkkkkkk"

"Aaaaaaahhhhhhh" haegun berteriak dan hendak membalas lagi, namun dudu songsaengnim datang dan melerai mereka.

...

Bel pulang pun berbunyi.. Haegun bergegas menuju hotel dan mencari tempat penginapan baru yang harganya terjangkau dengannya.

"Hhh.. Hidup di kota sesulit inikah? Rasanya aku ingin kembali ke desa, aaa eomma appa TT.TT lalu aku harus kemana?" haegun menyusuri jalan berharap menemukan sebuah penginapan yang murah dan layak.

Jarum jam terus berputar, tak perduli sesulit apapun manusia ia tetap berputar, haegun kembali melihat jam nya, dan waktu menunjukkan pukul 17.34 sedikit lagi akan gelap.

"Eommaaa appaaa.. Bagaimana nasibku ini, sampai sepetang ini anakmu masih belum dapat tempat tinggal, kurasa aku akan mati" haegun sudah tidak kuat dan mencoba untuk duduk sebentar.

Disaat haegun sedang duduk, terlihat diujung sana ada keramaian, dan tampak seperti orang yang dikejar orang ramai, ah tunggu, MALING?!

dengan berani, haegun memanjangkan kakinya dan brukkk laki laki berandalan itu jatuh dan tas hasil curiannya terlempar cukup dekat dengan haegun, dan karena takut dikeroyok maling itu langsung berlari lagi.

Si ibu yang sudah pucat menghampiri haegun dan menyampaikan terima kasih nya, bahkan beribu ribu terimakasih untuknya.
Si ibu melihat haegun yang repot membawa 2 tas dan 1 koper besar, si ibu bertanya,
"Kau akan kemana nak? Sudah sepetang ini?"

"Ah, aku dari desa bu, dan hendak mencari penginapan yang murah" jawab haegun.

"Ah, kebetulan sekali dirumah ibu ada banyak kamar kosong, ikutlah dengan ibu saja, disini tidak aman"

"Benarkah? Ah terimakasih ibu.."

"Sama sama naak"

Sesampainya di rumah ibu itu, si ibu menyuruh masuk dan duduk di ruang tamu, tampak nya ibu ini bukanlah kalangan orang biasa, haegun berjalan melihat foto foto yang terpajang rapi di dinding, haegun berfikir sejenak sebelum ia bertanya pada ibu tadi.

"Mmm.. Maaf bu, ini siapa?" tanya haegun sambil menunjuk sebuah foto.

"Ah itu anak  kesayangan ibu, sekarang dia sedang sekolah mungkin sebentar lagi pulang, ada apa? Kau mengenalnya?" tanya ibu itu.

"Ah tidak.. Hanya seperti pernah melihatnya."

"Aa.. Baiklah akan kutunjukkan kamarmu, kajaa.." ibu itu bergegas menuju ke ruangan dalam dan tampak nya bersebelahan dengan sebuah kamar.
"Ayo naak masuk, maaf kalau jelek kamarnya, selamat istirahat."

"Aigoooo.. Ini sudah sangat bagus bu..Akulah yang harus nya minta maaf karena sudah merepotkan ibu" kata haegun sambil membungkuk.

"Sama sama, aku hanya meminta 1 permintaan kepadamu naak" pinta ibu itu, dan sepertinya serius.

"Apapun itu, katakanlah"

"Aku hanya ingin kau membimbing anakku yg tadi kau lihat di foto, karena kurasa kau bukanlah anak biasa, kau anak pintar bukan? Aku resah, dalam kurun  1 tahun belakangan ini prestasi belajar anakku menurun, ntahlah karena apa, dia juga menutup dirinya terhadap ibu, aku sangat merindukan nya, rindu kelakuan manjanya, kau bisa membantuku kan? Kumohon?" ibu itu menjelaskan secara panjang lebar.

Haegun melihat raut kesedihan dan seperti kehilangan tampak diwajah ibu itu, tanpa berfikir lagi haegun mengiyakan dan seketika ibu itu kembali berterima kasih.

...

Jam menunjukkan pukul 17.05 bel pulang sudah berbunyi dan anak anak kampus bergegas pulang.

Tampak gikwang dan ara sedang berjalan menuju parkiran.

"Chagiaaa.. Kajaaa" ara mengajak gikwang ke suatu tempat sambil menarik lengan nya erat.

"Eodi? Bar lagi? Aigoo.. Tapi sudah berapa kali aku membohongi eomma ku?!" kata gikwang secara halus menolak ajakan ara, yeoja chingu nya.

"Keundae... Yaakk?! Kau tak lagi cinta denganku eoh? Kau jahat oppaaa!!" ara memasang wajah childlish nya.

"Ye ye ye" gikwang pun tak bisa menolak.

Setelah 2 jam di bar, bukan saja ingin muntah bahkan gikwang rasanya mau roboh, ia tidak kuat lagi berdiri dan.. Samar samar ia melihat ara sudah tak ada di sisi nya lagi, tapi ia samar samar melihat ara bersama laki laki lain.

"Aaa.. Ara... Arasshi.. Aishh sakit sekali kepalaku!"

Ara yang mendengar lirihan gikwang segera pamit kepada selingkuhannya dan berkata "pergilah sebelum laki laki bodoh itu sadar, dan pergi saja tak usah bayar minuman mu, biar laki laki bodoh itu yang membayar nya, uang kita kumpulkan saja untuk biaya pernikahan kita, goodbye chagi" ara pergi meninggalkan kekasihnya dan menuju ke arah gikwang.

"Aigoo chagiaaa.. Ayo kita pulang, kau sudah minum terlalu banyak, aku tak ingin pangeranku ini sakit" ara lagi lagi membohongi gikwang.

"Chhh.. Chagiaa.. Kau bisa menyetir kan? Aku tak kuat lagi chagi, kau bisa kan?"

"Tentu saja chagi"

....

Haegun kembali melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.10 hampir pukul setengah 11. Kemana laki laki itu? Mengapa selarut ini belum sampai rumah begitulah sekelumit pemikiran yang muncul di benak haegun. Laki laki itu memang bukan siapa siapanya tapi dia punya tanggung jawab baru akan laki laki itu.

Haegun berjalan menuju ruang tamu, dan tampak si ibu tertidur di kursi. Haegun merasa iba, pasti ibu ini sedang menunggu kepulangan anaknya, kalau saja laki laki itu pulang akan ku ocehi dia! Batin haegun.

Haegun pun mengambil selimut dan menyelimuti ibu yang tertidur, namun ibu itu bangun dan berterimakasi kepada haegun.
"Ah haegunaa.. Gomawoyo.. Ibu tertidur disini menunggu anakku"

"Ara.. Jadi selama ini ibu.." belum selesai haegun bicara sudah di potong oleh ibu.

"Panggil saja aku ajhumma sayang" kata ibu itu.

"Ah yee ajhumma.. Jadi selama ini ajhumma sering tidur diluar menunggu nya? Aishh kalau saja aku bertemu dengannya akan ku cincang dia sudah membuat ajhumma menunggu selarut ini!"

"Aigoo.." ajhumma hanya tertawa melihat haegun yang terlewat emosi.

Tiba tiba saja terdengar suara mobil di depan sana, dan ajhumma dengan cepat membuka pintu.

Terlihat seorang wanita cantik disana, dengan pakaian yang cukup pendek dan ketat, dan terlihat gikwang yang sedikit berantakan tapi sudah sadar.

"Siapa dia ajhumma?" tanya haegun.

"Yeoja nya" kata ajhumma

"Eh? Aku pernah melihatnya! Aigooo?!!!!"

Tapi ajhumma tak mendengarnya, haegun pun masuk ke dalam, ia tak ingin berurusan dengan wanita itu.

Gikwang terlihat tersenyum pada ajhumma, tapi hanya tersenyum dan terlihat dari cara berjalannya ia habis mabuk, segera saja haegun berdiri dan menghadang gikwang yang ingin segera menghempaskan diri di kasur.

"Yaakk!! Dasar namja bodoh! Kau minum kan? Jadi kau ke bar selarut ini? Dan kembali tanpa menghiraukan eomma mu yang terlelap tidur di ruang tamu demi menunggumu eoh? Kau benar benar bodoh!" haegun benar benar mengocehi gikwang.

"Yaak?! Kau siapa? Berani sekali masuk rumahku?.. Hei! Kau kan wanita sialan yang menumbur mobilku tadi pagi? Untuk apa kau kemari? Ingin meminta maaf dariku eoh?"

Seketika saja rumah ajhumma menjadi sangat ribut, ajhumma seperti ingin pingsan.

"Yaak kalian berdua berhentilah bertengkar?!" kata ajhumma "kumohon berhentilah! haegun! Gikwang!"

Karena mendengar teriakan ajhumma segera saja haegun diam dan merasa tidak enak, ia dengan cepat menuju kamarnya, takut ia akan diusir karena status nya adalah menumpang.

"Yaakk! Wanita sial! Urusan kita belum selesai! Lihat kau besok!" ancam gikwang.

...

"Dasar wanita sial!"

Gikwang masih saja mendumel akibat haegun.

"Tapi.. mengapa wanita itu ada disini? Mengapa eomma memperbolehkan dia ada disini? Apa teman bisnis eomma? Ah.. Rasanya aku malas sekali hidup karena wanita sial itu!"

Gikwang pun melemparkan pakaian nya ke keranjang dan menghempaskan tubuhnya untuk tidur.

...

Kring.. Kring..

alarm kesayangan haegun sudah berbunyi, pukul 06.00. Ia ingat hari ini ada mata kuliah pagi dan ia harus bergegas ke kampus karena dosen nya yang killer dan tak segan menghukum siswanya dengan hukuman sadis bin memalukan.

"Aigoo aku lupa menyiapkan peralatan yang harus kubawa.. Ah penaku.. Lalu.. Buku itu.. Mmmm sudah siap.. Lalu aku akan pakai baju ini, dan .. Celana ini.. Lalu rambutku akan kubiarkan kuurai saja.. Mmm ready! Sekarang waktu nya mandi..."

Haegun berjalan menuju kamar mandi, dan hampir naked sebelum ia sadar kalau pam nya... MATI TOTAL!

"omooo.. Mana airnya? Aishhh aku harus bertanya pada ajhumma"
Haegun pun kembali memakai piyama tidurnya, dan segera mengikat tali pinggangnya.

Terlihat diluar kamar nya, ajhumma sedang menyiapkan sarapan, melihat haegun keluar tanpa pakaian kuliah nya, ajhumma menyapa nya "haegunaa pagi! Ada apa denganmu? Mengapa belum siap kuliah? Berangkat siang? Mmm?"

"Aa.. Ani ajhumma.. Aish maafkan aku kesiangan ajhumma, aku jadi tidak enak tidak membantu ajhumma, mian.. Ah ajhumma mengapa air di kamarku tidak hidup?"

"Aaah ajhumma lupa. Iyaa pam nya sedang rusak yang bagian kamarmu dan bagian kamar gikwang, mandilah di kamar mandi itu (ajhumma menunjuk) ah.. Tanya gikwang di dalam sudah selesai atau belum ya" kata ajhumma.

Haegun pun berjalan menuju kamar mandi yang ditunjuk ajhumma, haegun mengetuk pintu berkali kali.

"Gikwanga! Pallie! Aku mau mandi juga!"

"APA APAAN KAU WANITA SIAL! MANDI SAJA DILUAR!"

"AISHH MENGAPA KAU MENYOLOT?!"
haegun tak sadar kalau ajhumma memanggilnya untuk mandi di kamar ajhumma.

"KAU RUSUH DASAR WANITA SIAL! KALAU KAU MANDI DISINI RUMAHKU AKAN SIAL! PERGI KAUUUU!" kata gikwang makin nyolot-_-

"YAKKK!! JADI KAU INGIN RIBUT LAGI DENGANKU? BAIKLAHH"

ajhumma semakin pusing, ia bergegas memanggil satpam dan menyuruhnya mengurung kedua anak itu di dalam kamar mandi, rasanya kepala ajhumma semakin ingin pecah-_-

Satpam bergegas masuk dan membukakan pintu.

Haegun santai saja karena pikirnya gikwang akan segera dipaksa keluar dan ia bisa mandi dengan cepat.
Namun pemikiran nya salah, satpam itu mendorong haegun dan menutup pintunya dengan cepat, dan tali piyama haegun terjepit! *ALAMAT BAKAL KEJADIAN GA ENAK INI-_-

"YAKK!! NEO!! MENGAPA KAU MASUK KESINI BODOHHH! AKU BELUM SELESAI MANDI! KELUAR KAUUU!!!!"

"AAAAA ajhumma tolong bukakan pintu?! Maafkan aku tak bisa diam karena KAUU!!! " haegun terpatung menatap pintu membelakangi gikwang dan meratapi tali piyamanya yang terjepit-__,-

"KAU YANG SEHARUSNYA DIAM! KALAU SAJA KAU DIAM MUNGKIN TAK AKAN SEPERTI INI KEJADIANNYA! DASAR BODOH!" gikwang masih emosi terhadap wanita yang disebutnya sial ini.

"YAAKK BERHENTILAH BERKATA BODOH! Cepat pakai handuk mu, aku akan masuk bathub untuk mandi! Pallie!" haegun mengira ngira ini sudah pukul berapa, kembali terbayang wajah seonsangnim yang killer!

"Yaak! Mandilah kalau kau berani! Kau kira ada penutup bathub di kamar mandi ini? Kau salah! Kamar mandi ini semuanya kaca tanpa kain! Kau akan kiamat haha!" gikwang segera memakai piyamanya dan menghampiri haegun hendak membuka pintu.

"Kau mau apa?" kata haegun, matanya sayu hampir menangis mengingat wajah killer gurunya.

"Tentu saja aku mau keluar bodoh! Minggir!"

"A..andwae!"

"Yaakk!!! Awas!"

"Andwae!!!!!" haegun tidak mau minggir dari pintu karena tali piyamanya terjepit di pintu, ia pun bersikeras tidak mau memegangi piyamanya yang tali nya terjepit dan menghadap pintu melindungi talinya karena malu kalau saja gikwang tau talinya terjepit pastilah ia akan terbahak.

"MINGGIR ATAU KAU AKAN KUCEKIK!" ancam gikwang.

"Aa.. Tolonglah.. Jangan..."

"CEPAT LAH"

"JANGAN GIKWANG JANGAN.. KUMOHON!"

Ajhumma yang mendengar haegun berteriak, ia memanggil satpam, ia takut gikwang menganiaya haegun-_-

/kembali ke toilet/

haegun yang terus dibentak oleh gikwang akhirnya takut dan berjalan miring melindungi piyamanya yag ternyata talinya masih terjepit di pintu.

 Melihat tali itu terjepit, gikwang terbahak dan hendak merobeknya.

"Jadi ini alasan mengapa kau tidak mau mingir? hahahaha baiklah akan ku robek! Kalau benda ini masih ada di pintu ini, rumahku akan sial sepertimu!" gikwang jahat banget TT.TT

"JANGAN GIKWANG! JANGANNN!! ITU PIYAMA PEMBERIAN ALMARHUM IBUKU. KUMOHON JANGAN KAU ROBEK! GIKWANGG!! JANGANN KUMOHONNN!!" haegun segera berlari menghadang gikwang untuk merobek tali itu, piyama yang ia pakai adalah pemberian eeommanya sebelum tragedi yang menewaskan eommanya.
Bahkan haegun berlari, tanpa sadar ia menghadang gikwang dan menatap gikwang penuh amarah. Dengan bodohnya ia lupa tali itu terjepit! Ia tak sadar, namun ia segera sadar setelah melihat lirikan mata gikwang yang seperti laki laki b**ingan.
Haegun melihat kebawah dan refleks berteriak "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"

tiba tiba pintu terasa seperti ada yang mendorong. Tubuh haegun terlempar dan menubruk gikwang, jatuhlah mereka berdua *ala ala drama hahaha

...

Satpam pun memenuhi permintaan ajhumma. Pintu dibuka dan ...

"AJHUMMAAA!! LIHATLAH APA YANG MEREKA LAKUKAN!!" satpam berteriak heboh dan ajhumma segera berlari kepalanya kembali pusing bercampur emosi setelah melihat apa yang ia lihat.

Mereka bersandar tumpuk ditambah lagi piyama haegun yang tak terpakai rapi akibat insiden tak terkendali tadi.

Dan dengan cepat ajhumma menampar gikwang dan haegun.

To be continue😳😳

*endorse*

IG @deadarae
LINE deyydaaa
ASKFM @DeaDaraDwiElis

Jati Diri

JATI DIRI

Masihkah ada yang bertanya tanya tentang Jati Diri?
Jati Diri.
Sebuah kalimat terdiri atas dua kata; Jati dan Diri.
Jati; bisa bermakna pohon; bisa bermaksa inti dari sebuah sesuatu;
Diri; bisa bermakna menunjukan seseorang; bisa bermakna kebenaran atau hal yang bersifat tidak ditutup tutupi tentang keadaan seseorang baik fisiknya maupun sifatnya.
Jadi Jati Diri adalah sebuah inti dari kebenaran seseorang terhadap dirinya sendiri, apa yang ia minati apa yang ia sukai apa yang selalu ia lakukan tanpa ditutup tutupi dan apa adanya.
Jati diri selalu identic dengan jawaban dari SIAPA DIRI KITA SEBENARNYA.
For the one and only question is “HAVE YOU KNEW WHO IS YOU?”
That’s.
Sejujurnya inti permasalahan dari update posting gue kali ini adalah gue bingung SIAPA gue ini? APA yang gue suka? Dan Apa-sih maunya diri gue ini.
Sebagian orang bilang kalau Jati Diri berhubungan erat dengan motivasi hidup/motto hidup. Dan kali ini pun gue masih kagak tau Motto idup gue apaan. Serius.
Dan sebagian lainnya berkata bahwa Jati Diri tak jauh dengan Bakat. Nah for this time, gue pun kaga tau apa bakat gue, how poor.
Nyanyi? Boro, ngaji se-ain aje ude serek basah, Akting? Bediri depan dosen aja kaku lebih dari poon jati keker nye haha, Masak? Lah masak aer aje pancinya yang gosong hmmm.
Orang tu suka bilang “ude jalanin aje ni idup juga bakal nemu ape ujungnye, bakal akhir nanti”
Iya sih gue akuin ini omongan bener kok. Tapi, kita hidup Cuma sekali, kita di beri kesempatan oleh Allah SWT (Tuhan Masing Masing daah) untuk nyari dan mengetahui segala sesuatu yang gak bakal kita temui lagi kalo ude ninggal, ye kagak? So selagi masih ada kesempatan kenapa kaga dipake buat cari tau apasih dan siapasih gue ini-_-
Suer ye, kalo dipikir gue mah ampe pusing, sapa sih gue ini? Kaga bicara lebay nye yee, tapi ya gitu, gue akuin kalo daya imajinasi dan berfikir itu gue handal, punya 1001 macem hayalan ni di kepala tapi kembali ke diri lagi, gue ini siapa? Maunye ape?
Sampai akhirnya, ketika gue lagi merenung ubek ubek blog, ada yang respon positif di tulisan gue, gue kaga bilang jati diri gue penulis, lah gue aja masih nanya emak bapak gue demenan nye apaan-_-
1 musuh terbesar dalam setiap diri insan manusia adalah, ketika kita lagi berusaha setengah mati untuk menemukan siapa jati diri kita sebenarnya, dan selangkah lagi we got it, namun semua itu hancur ketika penyakit “MALAS” datang.
That’s.
Gue orang nya gampang terinspirasi, cerita dikit nih hihi.
Gue suka sama film luar negeri yang alur dan jalan ceritanya ga melulu tentang CINTA, sebuah karunia dari Tuhan yang apabila salah kaprah dan salah mengartikan dapat menghancurkan generasi di masa depan kelak, gue suka sama genre yang mungkin melibatkan action di dalamnya, namun ada klimaks dari inti cerita tersebut, biasanya genre film yang Adventure ataupun Fiction.
Hm, pernah gue terinspirasi, hm bukan terinspirasi tapi sempat ‘dibuka’ mata dan hati karena alur dan klimaks dari film tersebut.
Jujur gue pengen dan udah ngerencanain bakal update blog atau youtube channel tentang inspirasi ini, niatnya sih sekedar retype (bukan plagiat) maksudnya nulis dengan genre yang sama taoi beda alur hanya ngembil dari judul atau tema nya aja, gitu. Dan setelah selesai nulis bakal buat video reaction gitu ke Youtube.
But, as always, RENCANA yang hanya menjadi WACANA!
Its all bcs LAZY!
Hm perusak mood, perusak imajinasi dan perusak segaalnya.
Hm, itulah kenapa Negara maju dan Negara berkembang lain nya baik dan bagus pelaksanaan pembangunan negeri nya ya itu tadi, penyakit malas benar benar di perangi di ‘sana’ (kaga sebut Negara apa).
Mungkin inti dari tulisan ini adalah terus jalani visi dan misi hidup kita ke depannya, sukses bakal menghampiri ketika kita sungguh sungguh dan menghindari 1 hal yang disebut dengan MALAS. Hmm.
Semangat!
Hidup anak muda!

Bye~

Senin, 08 Agustus 2016

Puisi

Cinta
Oleh Dea Dara Dwi Elis


Cinta
Sepenggal kata penuh kenangan
Sepenggal kata penuh air mata
Sepenggal kata penuh penyesalan
Dirimu bagaikan sebuah permata surgawi ketika diri ini jatuh dalam pelukanmu
Begitu manis kata katamu
Begitu rupawan tutur kata mu
Aku terhempas jatuh kedalam pelangi
Sebuah cahaya yang begitu indah tanpa akhir
Sampai diri tak mampu mengingat lagi siapa diri ini, dan apa kabarnya diri ini
Kau membuat semuanya indah
Kau membuat semuanya sempurna
Kau membuat seolah dunia hanya kau dan aku
Begitu sempurna nya karunia Tuhan
Namun semua menjadi bencana
Ketika kau tak lagi bersamaku
Ntah apa yang ada di pikiranmu
Hingga akhirnya kita berpisah
Mungkin tuhan ingin menyadarkan

Setiap cinta tak jauh dari perpisahan