Holaaa~~
In this posting i make a new ff❤
Author Lee Hae Gun a.k.a DeaDaraDwiElis
*Old Typed Sorry Alay*
Cast:
- Cha Hae Gun
- Lee Gikwang
- Yoon Ara
- Ajhumma
- Junhyung
CHAP 2
Age : 16+
"The First Snow with Gikwang FF"
Part II
...
Satpam pun memenuhi permintaan ajhumma. Pintu dibuka dan ...
"AJHUMMAAA!! LIHATLAH APA YANG MEREKA LAKUKAN!!" satpam berteriak heboh dan ajhumma segera berlari kepalanya kembali pusing bercampur amarah setelah melihat apa yang ia lihat.
Mereka bersender tumpuk ditambah lagi piyama haegun yang tak terpakai rapi akibat insiden tali kejepit.
"a..ani ajhumma, ini salah paham, m.. mian ajhumma!" haegun mencoba memperjelas keadaan.
Dan dengan cepat ajhumma menampar gikwang dan haegun.
"Apa yang kalian lakukan hah? Kalian ingin membuat eomma cepat mati?" ajhumma kesal akibat ulah mereka berdua.
"Kau Lee Gikwang! Tak pernah berfikir kah kau bahwa setiap hari rumah ini seperti neraka!? Kau tak pernah menganggap kehadiran eomma disini! Kau ingin eomma mati?! Dan kau Haegun! Aku tak habis fikir denganmu! Kalian akan kunikahkan secepatnya sebelum kabar ini meluas ke masyarakat!" ajhumma menangis, dan mengambil kebijakan sepihak tanpa menghiraukan permohonan maaf haegun.
"AA.. ANI AJHUMMA! MWOOYAAA?" teriak keduanya yang masih bersimpuh di lantai.
"Eomma! asal kau tau! Sampai kapanpun aku takkan menganggap kehadiran eomma. Tak ingat kah emma kejadian 6 tahun lalu?! Bukankah itu sudah cukup untuk menganggap kehadiran kau!? Aku berubah karena eomma! Jangan pernah kau salahkan aku, kau yang membuat aku seperti dan kau harus merasakan apa itu kepahitan!". Gikwang pergi meninggalkan ruangan itu.
Ia naik darah, ia sangat emosi setiap kali harus beradu pendapat dengan eomma nya.
Haegun terdiam memikirkan perkataan yang dilontarkan gikwang tadi, ia semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini.
/flashback 6 tahun lalu/
"Appa! Ini adalah ulang tahunku yang ke 12! Appa akan berikan aku hadiah apa? Bukankah appa berjanji padaku untuk memberikan aku kado spesial untukku?" gikwang sumringah di hari spesial nya ini, ia tak sabar menunggu hadiah dari appa nya.
"Baiklah, tunggu sebentar nak, appa mau ajak eomma juga" appa bergegas menuju ruang tamu, namun ruang tamu sangat penuh dengan kawan bisnis eomma, mereka tampak seperti sedang membahas berlian atau apalah..
"Eomma.. Bisa bicara sebentar?" appa memanggil eomma.
"Ah ye chagi, ah.. Tunggu sebentar yaa" eomma berkata pada kawan kawan bisnisnya.
"Yee appa? Wae? aku sedang ada bisnis dan harus selesai hari ini, karena omset nya besar sekali! 3miliar dalam 1 minggu!" eomma sangat bersemangat dengan bisnis nya ini.
"Aku akan mengajak gikwang untuk keliling kota dan membelikannya mobil, kuharap kau bisa ikut. Tapi... Sepertinya tak bisa?"
"Ah.. Maafkan aku gikwangaa.. Selamat ulang tahun uri adeul,kau pasti akan bahagia dengan kado appamu, eomma akan berikan apa yang kau mau sayang, tapi eomma tak bisa ikut, mian, saranghae uri gikwangi" setelah eomma mengucapkan ulang tahun, mengecup pipi nya dan eomma kembali ke ruang tamu. Sangat sibuk.
"Hhh.. Eomma tidak bisa ikut appa.. Padahal aku sangat ingin pergi bersama sama dengan eomma juga.." gikwang tampak sedih, namun appa nya menghiburnya dan mereka pergi ke tempat tujuan mereka.
...
Di perjalanan hujan turun sangat lebat, appa dan gikwang tampak sangat bahagia dan bercengkrama bersama, di tengan jalanan yang licin dan hujan lebat, tiba tiba saja rem tak berfungsi seperti biasanya dan mobil yang dikendarai appa gikwang terpental akibat jalanan yang licin ditambah udara yang gelap dan jalanan yang berada di atas sebuah tebing yang curam. Gikwang memegangi kursinya erat dan BUKKKKKK!!
mobil tepat menumbur pembatas jalan, dan mereka berdua terkejut dan sontak terjentus bagian ke depan mobilnya, hingga kepala mereka mengalirkan darah segar sangat banyak, gikwang terlihat sangat syok.
"Appa.. Appayaaa.. Appaaaa.. Aku tak apa.. nan gwaenchanna.. appa.. Bukankah ini cukup menantang? Eoh? Appa!!" ditengah kepalanya yang berdarah gikwang masih saja menganggap bahwa ini hal yang seru.
"Ye.. gikwang!... Anakku.. Ini sangat mem.. Bahagiakan.. Appa.. Sangat baha..gia.. Ma.. Masih ..bbb.. Bisa melihat se..senyummu.. Hari ...ini.. Appa .... Appa ..... pesan padamu ..... jaga... Jjj... Jaga.. eomma mu baik baik.. Dan jika... nanti polisi datang.. appa sudah ....pulang.. Aaap.. Appa... mau istirahat.. Naak.... App.. Appa le...lelah...." tiba tiba saja appa terpejam seperti tidur dan tangannya menjuntai, kepalanya, bibirnya yang dipenuhi darah masih tersenyum pada gikwang.
"Appa! Appa!!! Bangunlaah! apa maksudmu pulang?! Appa ... Appa ini bukan dirumah! Appa bangunlah! Appa!!!!!" gikwang menangis melihat keadaan appa nya, ia bingung harus apa.
Tiba tiba ia teringat ponselnya di kantungnya, ia cepat menelepon eommanya ..
Hanya terdengar suara tersambung, namun tak kunjung diangkat oleh eommanya.
"Eomma!! Kumohon angkatlah! Pallieee!!"
Hampir puluhan kali gikwang menelepon eommanya namun tak pernah diangkat eommanya.
Gikwang menangis ketakutan melihat ayahnya yang sudah bermandikan darah dan keadaan pintu yang terkunci.
Setelah hampir 10 menit, mobil polisi datang dan segera mengevakuasi tkp, gikwang langsung dibawa kerumah sakit. Namun gikwang tak merasakan sakit apapun hanya hatinya yang perih melihat appanya sudah tak bernyawa.
/flashback off/
Gikwang kembali teringat kejadian 6 tahun lalu. Hatinya masih sakit mengingat senyum terakhir appanya, dan hatinya menjadi panas emosi setiap mengingat eomma nya yang tak mengangkat telefon nya saat keadaan appanya sangat kritis.
"Hhh.. Bukankah ini adil? Sakit yang aku rasakan akan dirasakan eomma juga?! Hh.. aku benci semuanya seandainya saat itu ia mengangkat telefon mungkin hal ini takkan terjadi, ini semua ulahmu HAH!!" gikwang kembali emosi dan melempar semua barangnya ke lantai.
....
Hari minggu yang cerah..
Haegun tidak tidur semalaman suntuk memikirkan bagaimana ia harus menyelesaikan masalah keluarga ini. ia ingin membantu karena ia telah diberikan tempat tinggal disini dan sudah basah juga ia telah mengetahui ada masalah antara ajhumma dan anak nya itu.
"Apa yang aku harus lakukan? Anak dan eomma nya yang berselisih karena masa lalu.. Aku harus apa? Aku harus tau dulu apa yang terjadi dimasa lalu" haegun merasakan kepalanya berputar mencari argumen masa lalu.
"Sebenarnya siapa yang salah?"
"Haruskah aku memberi saran pada ajhumma?!"
"Atau.. Aku .. ah! Baiklah.."
"tapi.. bahkan cerita nya pun aku tak tau"
...
Udara pagi begitu dingin, terasa menusuk tulang siapapun yang mencoba menantangnya.
Ajhumma.. Sepagi ini sudah berdiri di ambang jendela memikirkan nasib keluarganya yang semakin hari semakin rumit saja.
Tiba tiba terdengar bunyi pintunya yang diketuk.
"Masuklah" ajhumma berjalan menuju kursi dan duduk disana.
"Ah.. Kau haegun.. Ada apa? apa ada masalah lagi dengan anaakku?"
Haegun bernafas panjang sebelum mengatakan apa yang ia ingin katakan.
"ah ani, ajhumma.. Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku tadi pagi, sungguh aku tak sengaja dan aku.."
"Sudahlah, aku yang salah karena aku sudah bertindak kasar denganmu.. Maafkan ajhumma.."
"Aa.. Ani ajhumma.. Maafkan aku.. Mmm ajhumma.."
"hm" ajhumma melihat lingkaran hitam di mata haegun, "matamu.. wae? neo gwaenchanna?"
"Ah.. Tidak apa apa.. aku hanya kurang tidur saja ajhumma.. Ajhumma.. Aaa mian kalau aku memberi saran yang mungkin salah, tapi.. Ajhumma bukankah lebih baik kalau ajhumma meminta maaf dengan gikwang? Bukankah ajhumma tak mau masalah ini berlarut larut sampai ajhumma tua?"
"A.. Ajhumma sudah sering meminta maaf namun gikwang tak pernah mau memaafkan ajhumma.." ajhumma menangis.
"Aa.. Sabarlah ajhumma, sifat anak muda yang tak mau mengalah dan merasa selalu benar, ia tak sadar bahwa ia telah menyakiti hati eomma nya sendiri" haegun memeluk ajhumma "baiklah aku akan membantumu ajhumma"
"Terimakasih haegunssi"
...
Haegun berjalan menuju kamar gikwang, kepalanya masih pusing memikirkan apa yang harus ia katakan pada gikwang terkait masalah itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Namun tak ada jawaban..
Kembali haegun mengetuk pintu gikwang
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara dari dalam "SIAPA?"
haegun menjawab "AKU! GADIS SIAL!"
Terdengar lagi suara dari dalam "UNTUK APA KAU KEMARI BODOH! PERGI ATAU KAU AKAN KUUSIR DARI SINI!"
Haegun mencoba sabar "YAAKK?! CEPAT BUKA PINTU ATAU AKAN KUKUNCI PINTUMU DARI LUAR"
Namun tidak ada balasan dari gikwang, haegun segera membuka pintu, dan melihat gikwang yang terbungkus selimut dengan keadaan kamar yang seperti kapal pecah, kursi yang dimana mana, baju, dan peralatan lainnya yang berantakan.
"Aigoo! Ini kamar atau kandang ternak sapi? bahkan disana lebih rapi dari kamarmu. Tuhannn mahluk macam apa kau ini?!" haegun tidak bisa menahan diri untuk mengocehi gikwang kalau sudah bertemu dengannya.
"Cepat katakan kau ingin apa kemari? Cepat!"
"Aishhh sabarlah sedikit, Mm.. kau masih marah dengan eommamu? yaak ceritalah padaku" haegun siap menerima teriakan apapun dari gikwang. Ia sudah menutup telinganya.
Namun tidak ada teriakan yang ia dengar, malah seperti suara tangisan kecil yang ia dengar.
"Yaak gikwanga.. Apa kau menangis? Kalau kau ingin teman untuk berbagi kesedihan, aku disini siap untukmu, katakanlah, aku akan membantumu" kata haegun dengan tulus.
"Teman? Tidak ada seseorang pun yang kusebut teman didunia ini! Semuanya hanya lah hal tak penting dan aku tak butuh teman!" gikwang masih terlihat sangat emosi.
"Tidak.. Kau salah, aku menemukan banyak teman yang peduli denganku, bahkan membantuku tanpa pamrih, apakah kau tak tau hal itu?"
"Tidak!"
"Kau tau? Aku adalah sebatang kara.. Eomma dan appaku meninggal pada saat aku masih berumur 10 tahun. Mereka pergi begitu saja, dan aku hidup dari teman.. Mereka yang menyisihkan makanan untukku. Memberikan aku uang, memberikan aku ruang, dan memberikan aku kebahagiaan. Hingga akhirnya kami berpisah karena mereka harus melanjutkan studi mereka ke luar negeri, dan aku sangat bersyukur bertemu eomma mu yang rela memberikan ruang untuk orang seperti ku, bahkan eomma mu sudah ku anggap sebagai eomma ku sendiri." kata haegun panjang lebar..
"Ambillah ia sebagai eomma mu jika kau mau, aku tak butuh dia!" ketus gikwang.
"Oh ya? Kau tak butuh eomma? Kau tak akan besar dan hidup di dunia ini! Kau tau? Eomma mu menahan sakit yang hampir mati saat melahirkan mu! Dan darah, keringat, serta waktu saat melahirkanmu takkan bisa kau bayar walaupun sampai kau mati!"
"Tapi ia adalah penghianat appaku! Ia tak bertindak apapun saat aku ingin meminta pertolongan dan memberinya kabar bahwa appa sudah tidak ada! Bukankah itu sakit! dia yang menghianati keluarga ini dan ia harus kembali dihianati"
"Aku tau perasaanmu, tapi eommamu juga manusia! Ia kulihat tak pernah tidur nyenyak akibat ulahmu! Apakah kau ingin melihat eomma mu mati juga baru kau ingin minta maaf dengannya?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Aku malu!"
"Malu karena apa?"
"Malu meminta maaf dengannya! aku malu dengan semua ulahku selama ini aku tak ingin ia meninggalkanku juga tapi aku ingin dia sadar dengan apa yang dilakukannya di masa lalu."
"Kau ingin ku bantu?"
"Shh.. Kau bisa apa!? Kau kan bodoh!"
"YAAK?!"
"Baiklah" kata gikwang, wajahnya terlihat sedikit lega.
"Tapi ini semua tidak gratis! Kau harus mengantar ku kuliah setiap hari dalam 1 bulan!" haegun mencari tebengan hm.
"Aishh.. Baiklah!"
...
Haegun mendorong kuat gikwang untuk cepat masuk ke dalam ruangan eommanya.
"aigoo pallie"
"Aish kau ini!" gikwang menatap tajam ke arah haegun yang tampak cengar cengir melihat gikwang yang gugup setengah mati.
"Pallie"
Di ruang itu.. Eomma sedang berbaring dan tampak di sebuah meja terdapat obat obatan yang ntah apa khasiatnya. Eomma terlihat seperti memikirkan sesuatu, matanya melihat jauh ntah kemana, dan terlihat kurus bagaikan tak berdaging lagi.
Langkah demi langkah gikwang berjalan.. Sampailah ia di tepi ranjang eommanya.
"Eo..eomma.." terlihat dari matanya, gikwang menahan suaranya agar tak terdengar ingin menangis.
"A... Nugu? Gikwang? ah, uri adeul" eomma yang berbaring langsung duduk mendengar suara lirih itu. "Gikwangaa uri adeul! Ada apa sayang? Mm?"
"Mian." gikwang tak dapat mengucapkan banyak kata kata.
"Mian? Tak usah minta maaf pada eomma sayang.. Eomma yang.. Sss...salah padamu.. Eomma sudah menghiraukan panggilanmu disaat appamu meninggal.. Eomma sangat.. Sangat menyesal saat itu.. Tapi kau bersikeras tak mau memaafkan eomma.. Eomma tau kau marah.. Tapi... Eomma.. Tak bisa berbuat apa apa..." seketika eomma menangis haru dan memeluk gikwang erat. Ia penuh penyesalan.
"Nado eomma.. Aku sudah durhaka terhadapmu, Maafkan aku, eomma.." gikwang ikut menangis.
Jadilah eomma dan anak yang saling meminta maaf dan penuh tangis kebahagiaan. Haegun yang menyaksikan dari jauh sangat berterimakasih pada tuhan "hhh baiklah. Perkara eomma dan anak sudah selesai, hm hanya seperti ini, dipermudah syukurlah".
Disaat haegun mencoba untuk melangkah menuju untuk beristirahat tiba tiba...
"cha hae gun! Untuk apa kau bersembunyi disana, kemarilah, kau fikir aku tak tau kau sudah menguping?" ternyata ajhumma melihat bahwa haegun ikut menyaksikan kedua anak dan eomma yang saling bermaafan dan saling merangkul bahagia.
"Aa.. Yee.. Ajhumma" haegun tak tau harus memasang wajah apa. Ia hanya tertunduk dan kikuk. "Kk.. Keundae.. Cukkhae.. Karena kalian sudah berbaikan, mmm... Maaf aku sudah menguping tadi"
"Dasar wanita penguping. Yaakk eomma untuk apa kau biarkan wanita sial ini disini?" dan gikwang mulai protes dengan manjanya pada eomma nya.
"Aigooo... Manja itu sudah dapat kulihat lagi. Yaak uri adeul, kau tau eomma berhutang budi padanya. Ia sudah menyelamatkan eomma dari pencopet. Dan ia juga sudah memberi eomma motifasi. Harusnya kau bersyukur.. Aaa tunggu... Bukankah.." ajhumma terlihat mengingat sesuatu.
"Jangan jangan.. Masalah tadi pagi? Aishhhh!!!" haegun merasa tidak enak, ia seperti lunglai. Haegun bersiap untuk keluar dari kamar eomma, namun..
"Aaa.. Aku masih belum bertanya masalah kalian tadi pagi. Gikwang! Kau ingin eomma tulus memaafkan kesalahan mu sedari kecil?" tantang eomma, kini eomma terlihat licik.
"Aigoo.. Memangnya eomma masih belum memaafkan aku? Aaaa appaaayaa" gikwang mulai merengek.
"Aigoo,matilah aku disni aishh" haegun yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menahan geli melihat gikwang dan mencari cara menghentikan eomma.
"Aish mati kau menertawakan aku!" gikwang hendak menjitak haegun.
"Jangan bertindak kasar dengan calon istrimu. Baiklah sedikit padanya" kata eomma penuh tawa bahagia.
"Ye?" haegun merasa kaget.
"YAA EOMMA?!??" gikwang juga, hampir ia ingin memaki eomma nya, namun tak jadi hm
"Yee.. Kalian akan kunikahkan secepatnya. Jangan salahkan eomma, ini semua akibat ulah kalian sendiri, lagipula kalian terlihat serasi dan mata kalian tak dapat berbohong dengan eomma eoh" eomma menahan geli. "Baiklah kembali lah ke kamar kalian, sudah malam, cepat istirahat, niteu, ah pallie kka"
"Tapi ajhumma.." haegun masih tidak percaya.
"Eommaaa, Aku hanya mencintai Ara dia wanita ku, bukan wanita sial ini, dia bodoh eomma, bagaimana kalau nanti anakku akan bodoh juga seperti dia eomma?" gikwang kembali merengek namun kali ini eomma nya tak menggubris.
Haegun menahan rasa kesal, namun ia mencoba untuk tidak memaki gikwang di depan ajhumma.
...
"Ini akibat kau sial" gikwang menatap tajam ke arah haegun.
"Yaak! Kau yang salah dasar bodoh! Kalau saja kau tak usil ingin merobek tali piyama ku mungkin tidak akan serumit ini kejadiannya!" haegun menjawab.
"Tapi ini semua akibat kau! Karena piyamamu! aku harus membakar piyama itu, baru saja insiden tali sudah membuatku sial. Bagaimana kalau piyama itu berada di rumah ini? Keluarga ku akan hancur! Itu harus kumusnahkan!" gikwang berjalan menuju ruang haegun dengan cepat dan dengan ambisi yang berapi api-_-
"Andwae! Yaakk!!"
"Gikwangaaa"
"Jebalyoo.. Andwae"
"andwae! Andweeee!!"
Namun gikwang tak mendengar itu. Ia tetap saja mencari piyama itu di lemari haegun. Hingga akhirnya haegun menangis dan berlutut pada gikwang.
"Andwaee!! Kumohon gikwangaa. Apapun akan kulakukan. Asal jangan kau bakar piyama itu." haegun berkata sambil menangis.
"Mm.. Apapun?" kata gikwang.
"Ye.. Apapun! Asal jangan piyama itu"
"Baiklah.. Tapi aku mau kau..." gikwang berfikir sejenak.
"Ye! Mwo!! Pallie!! Apapun itu akan kulakukan!" haegun menahan kesalnya terhadap lelaki pabo ini-_-
"Baiklah.. Tapi aku mau kau melayaniku selama
.. Selamanya!" gikwang tersenyum penuh kemenangan dan sangat sombong!
"Mwo? Melayanimu? Kau kira aku pembantumu! Shireo! Yaak aku sudah membantumu! Kau berhutang budi padaku!"
"Baiklah mmm, mianhae, tapi kau takkan melihat piyama itu lagi mulai detik ini" gikwang lari, dan bersiap memegang piyama itu dan bersiap membakarnya.
"Aish! Baiklah! oke oke! aku akan melayanimu. Tapi.. Selamanya? Kau jahat sekali. yaak selama itukah?"
"Mau.. Atau .... Tidak?" gikwang sangat jual mahal.
"Kalau saja eomma ku masih ada, aku takkan sudi melayanimu!" haegun semakin emosi dibuatnya. Haegun pasrah saja karena hanya piyama itu satu satunya peninggalan dari eomma nya yg skarang ntah ada dimana.
"Baiklah pelayankuuu.. Aku sangat lelah sekarang.. Cepat bawa aku ke kamarku. Atau kita tidur saja berdua disini? Ah iya aku lupa aku tak mau ternoda karena wanita bodoh seperti mu, ara lebih cantik darimu hahaha" kata gikwang dengan candaan yang hampir membuat seisi perut haegun ingin keluar.
"KAU INGIN MATI?" haegun menjitak gikwang.
"Yaakk! Palie ah aku sudah mengantuk, pallie gotong aku" gikwang merebahkan tubuhnya di ranjang haegun.
"Aish cepatlah bangun!" haegun menyeret tubuh kekar gikwang dengan kasar karena kesal.
"Yakk yakk! Mengapa kau menyeretku? Gendong akuu, aigoo kasar sekali wanita ini!" gikwang purapura lemas dan menjatuhkan diri dipunggung haegun. "Pallie"
"Aigooo... Ini berat sekali! Yaakkkk gikwangaaaaaa!!" haegun hampir saja roboh menahan berat gikwang dipunggugnya.
...
Haegun yang hampir saja patah tulang karena menggendong gikwang akhirnya lega. Lelaki itu sudah ia gulingkan di kasurnya sendiri.
"Hhh berat sekali kau! Dasar! Baiklah aku mau kembali ke kamarku" haegun berjalan tapi ia merasa tangannya ditarik oleh gikwang.
"Kau harus disini. Kipasi aku!" perintah gikwang
"Tapi kan ada ac bodoh!"
"Shireo! Terlalu dingin bagiku tak baik bagi kulitku yang mahal ini hahaha" gikwang sangat sengaja membuat haegun lelah, gikwang mematikan ac nya, gikwang sengaja membuat haegun tidak kerasan tinggal dirumahnya, ia tidak mau menikah degannya. Ia teringat yoon ara, kekasihnya. "Pallie kipasi aku!"
Haegun membawa kipas tangan dan mengipasinya sambil berdiri.
"Untuk apa kau berdiri disana bodoh! Naiklah ke kasur bersamaku!" kata gikwang, ia menahan geli. Dalam hati ia berbicara "tak lama lagi kau akan pergi dari sini haegunaaa! Aku akan terbebas dan segera menikah dengan ara,ah ne nan yeoja"
"Shireooo!!" haegun menghancurkan lamunan gikwang, ia memilih untuk berdiri daripada 1 ranjang dengan namja yang kekar namun menyebalkan ini.
"ah kipasanmu lemah sekali!" gikwang sengaja membuka bajunya dan celananya hingga tersisa boxer nya saja, ia tak menganggap kehadiran haegun.
Haegun yang melihat gikwang melucuti pakaiannya hanya bisa diam dan.. Tersadar. "Yaakkk! Apa yang..kau lakukan! Cepat pakai bajumu! Kau kira tubuhmu akan membuatku luluh? Tidak! Tubuhmu jelek dan pendek! dasar tak sopan!" haegun mengatakannya penuh rasa kebencian seperti anak kecil, haegun memalingkan wajahnya.
"APA APAAN KAU?! SEHARUSNYA KAU BERSYUKUR BISA MELIHAT TUBUHKU YANG INDAH INI! Kipasanmu itu tak terasa bagiku! Sekarang disini bagaikan neraka ah angat panas! Cepat kipasi aku!"
"Aish! Manusia macam apa kau ini! Kalau saja kau bukan anak dari ajhumma, sudah ku pukuli, ku mutilasi dan kau ku buang ke jurang!" kata haegun.
"Mwo?" gikwang mendengarnya.
"Ani!" haegun mengelak.
"Yakk! Dasar yeoja sial!"
Gikwang berfikir sambil menjahili haegun, ia harus mencari tahu bagaimana membuatnya tak kuat disini.
Tiba tiba saja haegun menegur gikwang "Yakk namja pabo! Apa yang kau fikirkan? Kau mencari cara untuk mengusirku? Tidak akan ada cara bagimu untuk mengusirku hhh!" haegun sinis.
"Sombong sekali kau! Kemari kau yeoja bodoh!" gikwang yang kesal menarik leher haegun dan mengapitnya di ketiak nya.
"Yaakk lepaskan aku gikwanga!! Ketiakmu berkeringat! Hmfffhhh! Awas kauuummmffhh!! Besok akan ku hmmfghhhhh cincang kauuuu!!!!! Hmmmffhhhh lepaskan akuuu!!! Yaakk namja babo! Lee gikwanghhhmmmfff!! Yaak! Lepaskan aku! Hmmmffhh yaakk! GIKWANGAAAA!!!" haegun memberontak dan memukuli tangan gikwang, namun pukulannya tidak ada efek bagi namja sekekar gikwang.
"Cepat lepaskan aku bodoh! Hmmmffhhhhhhhhh.. Aku tak bisa bernafas! Atau aku akan berteriak! Hhhhmmmfff. Gikwangaaaaaa!" haegun mencari cara agar bisa lepas dari gikwang.
"Teriak saja! Sampai pagi pun takkan ada yang menolongmu! Ruangku kedap suara! Kau akan kiamat haegunssi" gikwang tertawa karena memiliki bahan mainan baru.
"Aku hmmffhhhh.. Takkan sudi hmmmfhhh.. menikah denganmu! Belum hmmmfhhh menikah saja sudah kau siksa akuu. Mungkin hmfhh menikah denganmu 1 jam kemudian aku hmmmf sudah tewas!"
Haegun mencari cara agar lepas darinya. Tiba tiba 'krekkk' haegun menggigit lengan gikwang.
"Aaaa... Aish kau ini, siapa juga yang ingin menikah dengan wanita bodoh, sial sepertimu!" gikwang yang tadinya duduk, merebahkan diri di kasur, dengan haegun yang tetap ada di ketiaknya. Ia berbaring miring.
"Apa?!! Lepaskan akuuhhhmmmmffff?!!" haegun menjambak gikwang, lagi lagi gikwang hanya terdiam.
"Nikmati saja dulu ketiakku ini sebelum kau takkan bisa menyentuhnya lagi! Aku akan menikahi Yoon Ara! dan kau takkan bisa menyentuh bahkan melihatnya pun mustahil" gikwang tersenyum dan memgangi kepala haegun.
"Hmmmffhh! Apa urusanku! Hmmfhh aku hmfhhh tak perhmffffffduli. Yaakkk aku tak bisa bernafas!" haegun semakin sesak nafas.
"Chinca?! eoh baiklahh agar kau cepat mati gadis sial" tawa gikwang.
"Yaakk gikwanga! Mati kau besok!" haegun hanya bisa pasrah dan terlelap di ketiak gikwang.
...
Alarm berbunyi sangat nyaring menunjukkan pukul 06.00, kedua insan penuh keanehan itu masih terlelap tanpa terganggu adanya dering dari alarm yang sangat nyaring itu.
Drt.. Drt.. Drt..
Ponsel gikwang bergetar, ternyata Yoon Ara meneleponnya.
Gikwang langsung terbangun mematikan alarm dan mencari ponsel nya.
"Aish sepagi ini dia menelefon hoamm" gikwang mencari ponselnya dan menarik lengan nya dari tindihan kepala haegun.
Haegun terbangun, dan tertidur lagi.
Gikwang mengangkat telefon dari kekasihnya.
"Ah.. Ara.. Morning. Tepat sekali chagi kau membangunkanku terimakasih" gikwang masih menutup matanya.
Tiba tiba haegun terbangun dan tersadar, ia kebelet buang air kecil. Dan mengguncangkan tubuh gikwang "Yakk aku pinjam kamar mandimu eoh? Aku sudah tak kuat!" haegun tak sadar gikwang sedang bertelefon, matanya masih terkatup.
/ara pov/
"Chagi.. Morning!.. Pallie bangun! Pangeranku harus bersiap mandi lalu kita berangkat bersama oke?" ara berkata penuh kebohongan yang mampu membius gikwang.
Dan terdengar suara gikwang disana.
"Ah.. Mmm.. Ara.. Morning. Tepat sekali chagi kau membangunkanku terimakasih"
Baru saja ara ingin membuka mulut menjawab gikwang, tiba tiba terdengar suara perempuan dari dekat gikwang.
"Yakk aku pinjam kamar mandimu eoh? Aku sudah tak kuat!"
Ara seperti tersambar petir mendengar suara yeoja di seberang sana, ia naik pitam, ternyata ia berani menyelingkuhiku juga fikir nya. "bajingan ini, aku tertipu" pikirnya.
Ara emosi.
"YAKK SUARA SIAPA ITU? MENGAPA ADA SUARA WANITA DISANA? KAU BERANI BERMAIN WANITA LAIN SELAIN DENGANKU EOH? KAU..."
Dan terdengar suara dari ujung sana.
"aa.. Ani chagi. Itu hanya suara yeoja dari tv ku, ah aku sedang melihat siaran tv dan .. Jangan berfikir tidak tidak denganku chagi.. Aku sedang menonton dvd disini, ah yaa, aku lupa kalau semalam aku memutar dvd kesayanganku, ah mian chagi sudah membuatmu marah" gikwang berbohong.
/ara pov end/
setelah dari kamar mandi, haegun tau kalau gikwang sedang mengangkat telepon dari ara, dengan cepat haegun segera akting dengan suara yang centil dan keras.
"Aaaa chagiaaa gikwangaaa! Aku sudah tidak kuat cepatlaah Oppaaaa paliieee kemarilah!" haegun yang menyadari terjadi perselisihan dengan Ara, musuh haegun, haegun sengaja membuat gikwang dan ara berakhir. Haegun menahan tawa nya. "Kau yang akan kubuat kiamat gikwang! Kau akan KIAMAT!" haegun menahana tawanya.
Dan terdengar suara ara disana "dia memanggilmu chagi? Oppa? Cepatlah? Yaakk! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN YEOJA ITU!?"
Lalu gikwang pun melirik tajam ke arah haegun. Ia pun berbicara lagi dengan ara "Ah ani chagi, kau salah dengar, itu hanya suara tv, ah sudahlah ayo kita bersiap mandi chagi hehe" kata gikwang kikuk.
Dan terdengar suara ara lagi diujung sana "SHIREO! JANGAN SEBUT AKU PACARMU LAGI! KITA BERAKHIR! KAU BAJINGAN"
Gikwang mengelak "Mwo?? Tt.. Tapi.. Tapi chagi?!"
dan terdengar suara telefon yang terputus.
"AAAAA! KAUUUU!!!!" gikwang yang emosi mengejar dan melempari haegun dengan bantalnya.
Haegun dengan puas tertawa "HAHAHHAHA PUAS KAU! KUBUAT KAU BERAKHIR! KIAMAT KAUUU LEE GIKWANG! KAU KIRA AKU TAK BISA BERBUAT APA APA HAHAHHAHAHAHA!" haegun berlari keatas kasur, ke sudut dan kemudian keluar.
Dan saat keluar dari kamar gikwang, haegun tak sengaja menabrak ajhumma yang hendak membangunkan gikwang di depan pintu gikwang. "Aaa.. mian, ah pagi ajhumma" haegun tersenyum masih geli dengan keberhasilan nya menghancurkan hubungan gikwang dan ara, dan langsung lari dan menuju kamarnya.
"Hhh.. Haegunaa.. Ttt.. Tapi.." ajhumma bingung melihat haegun yang berantakan keluar dari kamar gikwang.
Baru saja ajhumma hendak mendorong pintu gikwang, dan gikwang membuka pintunya dengan membawa bantalnya sambil berlari dengan tidak menggunakan bajunya namun hanya boxer nya saja "aaaa.. Eomma.. Pagi eomma?! Kemana dia, lari kemana dia eomma?" gikwang masih belum puas membalas haegun, gikwang mencium pipi eommanya, dan lari lagi menuju kamar haegun masih dengan banta di tangannya.
Ajhumma berdiri di depan pintu dan melihat kamar, perabotan, kursi, dan seprai yang berantakan itu membuat ajhumma kesal pada gikwang, ia merasa ingin pingsan dan terpatung, ia bingung sebenarnya apa yang terjadi.
Ajhumma berteriak "YAKK! GIKWANGA? APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN HAEGUN HAH? MENGAPA KAU HANYA MENGGUNAKAN BOXER SAJA HAH?"
Ajhumma menarik nafas dalam, menariknya dan menghembuskan lagi "Tuhannn"
Dan gikwang menutup bagian bawah tubuhnya menggunakan bantal ia lupa dan segera tersenyum kikuk dan segera terdiam di tempat ia berdiri, ia malu pada eomma nya dan berlari kembali ke kamarnya dengan bantal yg menutupi bagian bawah tubuhnya.
Gikwang tersenyum kikuk, dan segera menutup pintunya.
Ajhumma memegangi kepalanya, dan berjalan menuju kamar haegun..
Tok tok tok..
Dan haegun keluar menggunakan piyama, ia bersiap akan mandi.
"Ah ye ajhumma?"
Ajhumma masih memegangi kepalanya "kau.. Tidak diapa apakan anakku kan? Ah.. Kepala ajhumma pusing! Sebenarnya apa yang terjadi?!"
Dan haegun menjawab "ani.. Ajhumm.." belum saja haegun selesai berbicara, ajhumma sudaah ambruk pingsan. "ah, ajhumma.. aigoo"
/ara pov/
"Ah bajigan! Aishh apa yang ia lakukan dengan yeoja lain sepagi ini?"
Ara yang masih bertanya tanya mondar mandir mengira ngira apa yang terjadi dengan gikwang.
"Berani sekali dia menyelingkuhiku, bermain api denganku!"
"Aaahhh kurang ajar!"
"Baru saja aku akan memeras kekayaan nya! Aaaaahhh bodohh! Mengapa aku memutuskan nya? Ah!"
Lalu ara pun menelefon seorang namja disana.
"Junhyunga..."
....
Are you curious, with who's Junhyung?
Just wait this ff on Part III
COMING SOON
To be continue😳😳
*endorse*
IG @deadarae
LINE deyydaaa
ASKFM @DeaDaraDwiElis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar